Semangat Jihad Para Sahabat




Dan perangilah mereka itu sehinga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi bagi orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah : 193)

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, suatu hari berkatalah para sahabat kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepada kami amalan yang pahalanya sebanding dengan jihad di jalan Allah,”

Beliau bersabda, “Kalian tidak akan mampu,” Beliau ulangi sampai dua atau tiga kali.




Para sahabat berkata, “Kabarkanlah kepada kami, mudah-mudahan kami mampu.”

Maka Beliau bersabda, “permisalan orang yang berjihad di jalan Allah adalah seperti orang yang puasa di siang hari dan shalat di malam hari membaca ayat-ayat Allah, dia tidak putus puasa dan shalatnya hingga seorang mujahid pulang kembali ke rumahnya.” (HR Ahmad)

Para sahabat Rasulullah saw merupakan orang-orang yang memiliki semangat jihad yang tinggi. Saat perintah jihad untuk memerangi kaum kufar turun, mereka sigap menyambut seruan itu.

Umair bin Hammam ra, adalah seorang sahabat yang syahid dalam pertempuran Badar. Mulanya, Umair mendengar Rasulullah saw bersabda, “Demi diri Muhammad di tangan-Nya, tidaklah seseorang yang berperang pada hari ini dengan sabar, mengharap keridhaan Allah, dan maju terus pantang mundur, melainkan Allah akan memasukkannya ke surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”

Umair yang mendengar seruan tersebut begitu terkesan. Seruan itu membekas dalam hatinya. “Surga seluas langit dan bumi?” batin Umair seolah tak percaya. Ia begitu ingin menjadi penghuninya.

“Engkau adalah salah satu dari penghuni surga,” tegas Rasulullah saw.

Mendengar ucapan itu, Umair merasakan kebahagiaan tak terkira. Sesaat setelah mengambil kurma yang akan dimakan, tiba-tiba ia mengembalikannya lagi. “Hidup hingga menghabiskan kurma-kurma ini rasanya terlalu lama,” ujarnya.

Umair pun segera  menuju medan peperangan. Ia bertempur dengan gagah menghancurkan kaum kafir hingga menemui kesyahidannya.

Hal ini juga dialami oleh sahabat Rasulullah lainnya, yaitu Auf bin Harits ra. Suatu ketika ia mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang bisa menyebabkan Allah tersenyum kepada hamba-Nya?”

Mendenger pertanyaan itu, Rasulullah saw tersenyum karena semangat jihad Auf yang menyala-nyala. Kemudian beliau menandaskan, “Saat Dia melihat hamba-Nya menerjunkan diri menyerang musuh tanpa memakai baju besi.”

Mendengar ucapan Rasulullah saw tersebut, Auf segera melepaskan baju besinya dan langsung terjun ke medan jihad. Meski dapat bertempur dengan baik dan optimal, tubuhnya ‘porak poranda’ akibat serangan musuh. Dan akhirnya Auf bin Harits ra gugur di medan jihad, di jalan Allah swt.

Saudaraku…

Ketaatan para sahabat kepada Rasulullah saw sungguh luar biasa. Tatkala mereka diperintahkan untuk berjihad fisabilillah, mereka melaksanakan perintah tersebut dengan sepenuh hati. Tidak ada pertimbangan lain. Jihad inilah yang menjadi salah satu keinginan para sahabat dalam hidup, meninggikan kalimat Allah, melindungi Islam dari musuh, dan menyampaikan kebenaran Islam di muka bumi.

Kecintaan Rasulullah saw terhadap jihad dan mati syahid tergambar dalam sabda beliau, “Demi Zat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh aku senang berperang di jalan Allah lalu terbunuh. Kemudia aku berperang lalu terbunuh. Kemudian aku berperang lalu terbunuh.” (HR.Muslim)

 

oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber buku ‘Betapa Rasulullah Merindukanmu’)

Leave a Reply