Pernah ada seseorang yang bertanya, “Kenapa orang yang mati syahid tidak dikubur dengan kain kafan melainkan dikubur berikut pakaian dan darahnya dan tidak perlu disholatkan?”

Seorang ulama menjawab, “Sesungguhnya orang Muslim yang matinya tidak mati syahid di medan perang, ia ditemani oleh keluarganya dan ia pasti akan disholati mereka yang mendoakannya dalam shalat jenazah agar ia diberi syafa’at dari Allah swt, diampuni dosanya, diterima amalnya, diteguhkan saat menjawab pertanyaan Malaikat di dalam kubur. Dan kuburannya dijadikan salah satu taman surga dan dikumpulkan di bawah panji Nabi Muhammad saw serta dimasukkan ke dalam surga. Semua orang yang mengiringinya mendoakan si mayyit seperti itu kepada Allah.”

“Tetapi, seorang yang mati syahid di medan perang tidak disholatkan karena ia tidak memerlukan lagi syafaat dari manusia. Ia adalah tamu Rabbnya sejak saat ia mati syahid. Dan ia ada di sisi Rabbnya hidup dan tidak mati. Allah telah memberinya rizki dan tempat tinggal yang mulia. Ruhnya terbang laksana burung mengitari taman-taman surga.”




Saudaraku yang selalu ternaungi oleh karunia Allah swt.

Betapa indahnya kematian yang bermakna kehidupan. Betapa indahnya kematian yang terjadi karena puncak pengorbanan tertinggi diberikan untuk Sang Pencipta. Betapa nikmatnya kematian yang mengawali aliran rizki dan tinggal di tempat yang mulia. Betapa mulianya kematian yang berarti perpindahan dari dunia menuju taman-taman surga.

Pernahkah kita mendengar nama seorang sahabat Rasulullah saw, yang bernama Malik bin Sinan. Ya, banyak sekali sikap-sikap hidup dari sahabat Rasul ini yang dapat kita ikuti dalam mengarungi kehidupan saat ini. Di dalam kitab-kitab Tarikh disebutkan bahwa Malik bin Sinan kondisi pribadinya, menghimpun begitu banyak kesulitan hidup.

Namun dibalik segala kesulitan hidup yang ia hadapi, Malik bin Sinan dikenal sebagai seorang pribadi yang selalu optimis, dan tak sedikitpun berkecil hati. Pun, ia dikenal sebagai orang yang tidak pernah menadahkan tangannya pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan, Malik bin Sinan adalah salah seorang yang pernah disinggung oleh Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah ayat 273, sebagai orang yang dikira memiliki harta karena tidak pernah meminta, padahal kenyataan malah sebaliknya. Kondisinya begitu sangat membutuhkan bantuan.

Malik bin Sinan pernah melewati tiga hari tanpa makanan. Keadaan ini pun diketahui Rasulullah saw, dan beliau membanggakan Malik di hadapan para sahabat lainnya. Baginda Rasul mengatakan, “Barang siapa yang ingin memandang orang yang menjaga kehormatan dirinya, lihatlah Malik bin Sinan.”

Saudaraku, mari kita mengingat kembali kejadian perang Uhud pada zaman Rasulullah saw.

Di pagi hari Jumat, kaum Muslimin berkumpul untuk bersiap keluar menuju peperangan Uhud. Malik bin Sinan kala itu pun turut bergabung dalam peristiwa bersejarah umat muslim tersebut dan mengatakan, “Kita demi Allah ada diantara dua kebaikan, bila Allah memenangkan kita atas mereka, maka mereka akan terusir. Atau jika kita kalah, wahai Rasulullah pintakan pada kami untuk mati syahid. Demi Allah ya Rasulullah, aku tidak peduli apapun yang kuperoleh dalam peperangan ini. Kedua-duanya adalah baik bagiku.”

bersambung…

 

sumber: majalah Tarbawi Juli 2003, kolom Ruhaniyat