Inilah beberapa kesimpulan yang kita ambil dari uraian Al-Imam Baidhawi yang meskipun zaman beliau sudah lama berlalu, masih dapat kita jadikan pedoman saat ini.

Oleh karena itu, dapatlah disebut bahwa orang-orang yang telah memegang kedelapan syarat tersebut, sesungguhnya ia telah berjihad fi sabilillah. Kalau sekarang jihad itu tidak dihentikan sampai nyawa bercerai dengan badannya dengan menempuh berbagai rintangan, kadang-kadang kemiskinan, kadang-kadang kekurangan rezeki, malah kadang-kadang kurang penghargaan dari masyarakat, tetapi ia tetap tidak mau berhenti maka akan tercapailah olehnya mati syahid, walaupun ia mati di atas tempat tidur rumahnya.

[baca sebelumnya: Hak-Hak Asasi Manusia – Jihad dan Syahid (bag. 1)]




Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (seorang sahabat yang tidak banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah, tetapi Nabi sendiri mengatakan bahwa kalau sekiranya ditimbang iman Abu Bakar dan diletakkan di sebelah piring timbangan, lalu di piring timbangan yang lain diletakkan iman seluruh kaum Muslimin, masih lebih berat iman Abu Bakar). Beliau pernah berkata,

“Dari Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad, melainkan akan disamaratakan Allah adzab siksaan pada kaum itu.” (HR at-Thabrani)

Dalam hal jihad ini, termasuk mempertahankan apa yang zaman sekarang disebut hak asasi manusia. Hak-hak asasi manusia itu wajib kita pertahankan kalau kita benar-benar hendak beragama. Mempertahankan agama pun adalah mempertahankan hak-hak asasi manusia. Sebab, menganut suatu agama yang kita yakin adalah hak-hak asasi manusia. Jangankan mempertahankan hak kita beragama, mempertahankan kehormatan rumah tangga, harta benda itu pun termasuk mempertahankan hak-hak asasi manusia.

Di dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., disebutkan bahwa Rasulullah pada suatu hari didatangi oleh seorang laki-laki, lalu orang itu bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

“Ya Rasulullah bagaimana pendapatmu jika datang seorang laki-laki hendak mengambil hartaku?” Nabi menjawab, “Jangan berikan hartamu!” Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana kalau ia hendak mengambil dengan kekerasan?” Nabi menjawab, “Pertahankan!” Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana kalau aku dibunuhnya?” Nabi menjawab, “Engkau mati syahid.” Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana kalau aku yang membunuh ia?” Nabi menjawab, “Ia masuk neraka.” (HR Muslim dan Nasa’i)

Demikianlah hak-hak asasi manusia pada harta benda kita sendiri menurut ajaran Islam. Demikian pula hak-hak asasi manusia menurut hukum dunia yang berlaku. Sebab, kehormatan rumah tangga seseorang diakui, dan tidak boleh diganggu gugat.

Sesudah itu datang pula sabda Rasulullah Saw yang lebih umum tentang hak-hak manusia itu, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Zaid radhiallahu ‘anhu.

Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan harta bendanya maka matinya adalah mati syahid. Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan darahnya maka matinya mati syahid. Dan, barangsiapa terbunuh karena mempertahankan keluarganya maka matinya pun mati syahid. (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

bersambung…

oleh: Buya Hamka (rubrik Dari Hati Ke Hati majalah Panji Masyarakat 1967-1981)