Kehidupan manusia tidak akan tegak di atas manhaj Allah yang tinggi selama prinsip ini tidak terealisasikan dalam tashawwur (pandangan dan persepsi) manusia. Selama hati mereka belum meyakini dengan matang bahwa balasan mereka di dunia ini bukanlah balasan akhir. Selama individu yang usianya terbatas ini belum meyakini bahwa ia memiliki kehidupan lain yang pantas diperjuangkan dan layak memperoleh pengorbanan demi membela kebenaran dan kebaikan dengan bersandar pada ganti (balasan) yang akan ditemui di sana.

Dalam tataran perasaan, akhlaq, perilaku dan amal, tidak sama antara orang-orang yang mengimani akhirat dan mereka yang mengingkarinya. Mereka merupakan kelompok yang berbeda akhlaq dan karakter. Amal keduanya tidak sama di dunia ini dan balasan keduanya di akhirat pun tidak akan sama. Inilah persimpangan jalan tersebut.

“Iyyaakana’budu waiyyaa kanasta’iin” (Hanya kepada-Mu kami ibadah, hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan). Ini adalah prinsip keyakinan yang tumbuh dari beberapa prinsip terdahulu yang ada di dalam surat ini. Tidak ada ibadah, kecuali hanya kepada Allah dan tidak ada permohonan pertolongan, kecuali hanya kepada Allah.




Ini pun merupakan persimpangan jalan. Persimpangan jalan antara kemerdekaan mutlak dari semua bentuk penghambaan dan penghambaan mutlak kepada hamba. Prinsip ini mendeklarasikan lahirnya kemerdekaan umat manusia yang sempurna dan menyeluruh. Kemerdekaan dari perbudakan khayal. Kemerdekaan dari perbudakan sistem. Kemerdekaan dari perbudakan kondisi. Apabila hanya Allah satu-satunya yang diibadahi dan hanya Allah satu-satunya yang dimintai pertolongan, maka hati nurani manusia telah terbebas dari pelecehan berbagai sistem, kondisi dan individu, sebagaimana terbebas pula dari pelecehan berbagai dongeng, khayalan, dan khurafat.

Di sinilah ditampilkan sikap Muslim terhadap berbagai kekuatan manusia dan kekuatan alam.

Kekuatan manusia bagi seorang muslim ada dua macam. Pertama, kekuatan yang memperoleh petunjuk, beriman kepada Allah, dan mengikuti manhaj-Nya. Terhadap kekuatan ini, mereka harus mendukungnya dan membantunya dalam rangka menegakkan kebaikan, kebenaran, dan keshalihan. Kedua, kekuatan sesat yang tidak berhubungan dengan Allah dan tidak mengikuti manhaj-Nya. Terhadap kekuatan ini, mereka harus memerangi, memberantas, dan menumpasnya.

Seorang Muslim tidak boleh gentar meskipun kekuatan sesat ini sangatlah besar dan bertindak semena-mena. Karena ia dengan kesesatan dari sumbernya yang pertama–yaitu kekuatan Allah–sesungguhnya telah kehilangan kekuatan hakiki dan kehabisan suplai yang senantiasa menjaga energinya. Sama seperti benda langit besar yang lepas dari sebuah bintang yang panas membara. Ia akan padam, menjadi dingin, kehilangan api dan cahayanya, meskipun gumpalannya berukuran besar. Sementara itu atom yang terus berhubungan dengan sumbernya yang memancarkan kekuatan, panas, dan cahayanya, akan tetap bertahan.

“… Betapa banyak kelompok yang sedikit bisa mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah…” (QS. Al Baqarah [2]: 249)

Ia mampu mengalahkannya karena terus berhubungan dengan sumber kekuatan yang pertama (Allah), juga karena memperoleh pasokan kekuatan dari sumber tunggal bagi segala kekuatan dan kemuliaan.

bersambung…

(Sumber: Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Ustadz Sayyid Quthb)