Pengorbanan dan Tabiat Da’wah

Ia adalah langkah kembali yang benar dan jalan menghindari eksploitasi pengorbanan manusia bagi kepentingan Fir’aunisme, Hamanisme, Qarunisme, dan Bal’amisme. Dan target ini sesungguhnya target da’wah itu sendiri, yaitu pembebasan. Ia perlindungan sejati bagi hamba-hamba tak berdaya, yang selama ini meniti bukit korban mereka yang salah dengan lelah, membawa sen demi sen uang yang mereka peroleh dengan keringat dan darah, bagi monster periba yang kejam dan mati rasa, pemilik modal yang arogan dan sais kereta kebendaan yang ringkih, tua dan berat, dihela keledai-keledai proletar dengan jasad yang semakin kurus, dimangsa para kamerad elite yang tak bermalu, memimpin dengan fanatisme, dendam dan dusta.

[baca sebelumnya: Pengorbanan dalam Islam (bag. 1)]




Pengorbanan rakyat bodoh yang terus dibodohi oleh para pemimpin berbaju paderi dan kiai, yang memanfaatkan kultus individu dan keyakinan lugu mereka tentang kewalian dan adi kodrati, padahal sang pemimpin lebih dekat kepada ateisme daripada monotesime, bahkan daripada politeisme sekalipun. Pengorbanan menjadi shahih bila dapat mengantarkan atau mempersembahkan supremasi tertinggi di tangan Allah dan termuliakannya darah dan nyawa, kehidupan dan kematian hamba, karena tertutup sudah semua jalan bagi berjayanya para penipu, pemeras dan kalangan yang memperdayakan mayoritas mengambang.

Sesungguhnya pada generasi sebelum kamu, ada yang disisir dengan sisir besi yang menancap ke bawah tulang, daging atau sarafnya. Semua itu tak mengalihkan mereka dari agama. Sungguh Allah akan sempurnakan urusan ini, sampai seseorang dapat pergi sendirian dari Shan’a ke Hadhramaut tanpa takut kepada siapapun kecuali Allah.” (Albuthy, Fiqh Sirah 106)

Hanya Untuk-Nya

Dalil yang paling terang bahwa misi ini tak membuka peluang bagi pengorbanan individu untuk kepentingan figur, adalah melimpahnya teks-teks larangan kultus, sampai celaan yang sangat bagi seseorang yang senang orang lain berdiri menyambut kedatangannya. Ketika Imam Ali bin Abi Thalib berkunjung ke suatu tempat, rakyat datang dengan sikap merunduk-runduk. “Alangkah ruginya kelelahan yang berujung siksaan dan alangkah beruntungnya sikap ringan yang berbuah aman dari neraka,” demikian nasihatnya.

Seseorang dapat menikmati kekaguman masyarakat terhadap kuantitas ibadah ritualnya dan ia menikmati ketenteraman beribadah sambil melupakan tugas jihad lisan mencegah kemungkaran di masyarakat. Layaknya penaka burung unta yang merasa telah aman karena berhasil menyembunyikan kepalanya ke dalam gundukan pasir, namun ia tak pernah akan aman dari tuntutan Allah.

Suatu hari Allah memerintahkan malaikat-Nya untuk menumpahkan adzab kepada penduduk suatu negeri. “Ya Rabbi, di sana ada seorang shalih,” lapor malaikat dan Allah sungguh telah tahu hal itu. “Justru mulailah dari dia, karena tak pernah wajahnya memerah karena-Ku (ketersinggungan karena kehormatan Allah dihinakan).” (HR Ahmad)

Mahar perjuangan yang mahal, tidak hanya menjadi tiket menuju kemenangan generasi tasis (peletak dasar), tetapi juga bagi generasi sesudahnya. Dan mereka harus membayar dengan pengorbanan yang sama dalam bentuk, format, dan gaya yang berbeda. Bagi generasi yang tak terdesak oleh jihad qital (tempur) selalu terbuka pengorbanan dengan berbagai jalan: pengorbanan waktu, perasaan, harta, kesenangan diri, dan lain sebagainya.

Mukmin sejati takkan bergembira karena tertinggal dari kesertaan berkorban, betapapun udzur memberi mereka rukhshah (keringanan). Akan kita dapati orang-orang yang sejati imannya, mata mereka akan basah oleh linangan air mata, karena mereka tak memiliki kemampuan (fasilitas ataupun biaya) untuk pergi ke medan pengorbanan.

dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan (QS. At Taubah: 92)

Maksudnya adalah mereka bersedih hati karena tidak mempunyai harta yang akan dibelanjakan dan kendaraan untuk membawa mereka pergi berperang.

 

oleh: almarhum KH. Rahmat Abdullah rahimahullah

sumber: Majalah Tarbawi Desember 2000, kolom asasiyat