Dikisahkan, karena terkenal kepandaian dan kecerdikannya dalam menyelesaikan perkara, Sultan Harun Al-Rasyid akan mengangkat Abu Nawas menjadi salah seorang hakim di Baghdad. Namun mendengar kabar tersebut, kerabat Abu Nawas yang dulunya pernah menjabat sebagai hakim di Kota Baghdad, kemudian memanggil Abu Nawas. Berkata kerabat Abu Nawas, “Kemarilah, ada yang ingin kusampaikan kepadamu,” sambil meminta Abu Nawas mendekat. “Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku,” Meski tak mengerti, Abu Nawas segera menuruti permintaan kerabatnya itu. Dari telinga kanan kerabatnya, Abu Nawas mencium bau yang sangat harum. Sedangkan telinga sebelah kiri berbau sangat busuk. “Bagaimana anakku? Sudah kau cium?”

“Sudah, Bapak. Bagaimana bisa menjadi demikian?” tanya Abu Nawas heran. Berkata kerabat Abu Nawas, “Pernah di suatu waktu, datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi, karena aku tak suka kepadanya, maka aku abaikan. Dan mungkin itulah yang membuat mengapa kedua telingaku memiliki bau yang berbeda tajam.”

“Menjadi hakim itu tak mudah. Kau harus bisa mengalahkan dirimu sendiri sebelum menjadi hakim. Kita harus mengabaikan perasaan sendiri dan berusaha menyelesaikan perkara dengan sebaik-baiknya,” ujar kerabat Abu Nawas. Abu Nawas terdiam mendengar penjelasan kerabatnya. Ia teringat kembali permintaan Sultan Harun Al-Rasyid agar ia menjadi hakim kota Baghdad. Ia tak bisa membayangkan jika menjadi hakim dan tak bisa mengemban amanah itu dengan baik. Ia begitu takut tak bisa mempertanggungjwabkan amanah itu di depan Allah
Subhanahu wa Ta’ala.




“Itulah risiko menjadi hakim, Abu Nawas,” kata kerabatnya lagi membaca kegelisahan Abu Nawas. “Maka jika kau tak suka menjadi hakim, maka buatlah alasan yang tepat agar Sultan membatalkan rencananya.” Lalu tak lama, warga kota seringkali melihat Abu Nawas berlarian di tengah pasar sambil berteriak tak jelas. Perilaku aneh itu terus dilakukan Abu Nawas hingga hampir setiap orang di kota Baghdad mengira ia telah kehilangan kewarasannya.

Hingga beberapa waktu kemudian, Abu Nawas mendengar kalau Sultan Harun Al-Rasyid telah mengangkat hakim kota Baghdad yang baru, barulah Abu Nawas berlaku wajar sebagaimana kebiasaannya sehari-hari. Setelah itu, barulah Sultan mengerti ketakutan Abu Nawas akan jabatan hakim yang dipercayakan kepadanya. Abu Nawas memilih berpura-pura menjadi gila agar terhindar dari beban amanah yang ia ragu bisa memanggulnya.

Ia bayangkan dengan banyak kisah yang seringkali kita temui sehari-hari tentang perilaku pemangku amanah yang justru berebut jabatan yang justru hanya dijadikan jalan untuk memperkaya diri. Pemangku amanah yang mengabaikan hak rakyat, seolah tak ada pertanggungjawaban di depan Allah akan amanah yang telah mereka emban.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

sumber: Cinta dalam Sepotong Ikan karya Ahmad K. Syamsudin