Berkorban Apa Saja (bag. 2)




Saudaraku, mari kita mengingat kembali kejadian perang Uhud pada zaman Rasulullah saw.

Di pagi hari Jumat, kaum Muslimin berkumpul untuk bersiap keluar menuju peperangan Uhud. Malik bin Sinan kala itu pun turut bergabung dalam peristiwa bersejarah umat muslim dan mengatakan, “Kita demi Allah ada diantara dua kebaikan, bila Allah memenangkan kita atas mereka, maka mereka akan terusir. Atau jika kita kalah, wahai Rasulullah pintakan pada kami untuk mati syahid. Demi Allah ya Rasulullah, aku tidak peduli apapun yang kuperoleh dalam peperangan ini. Kedua-duanya adalah baik bagiku.”

[baca sebelumnya: Berkorban Apa Saja (bag. 1)]




Siangnya, berkibarlah panji-panji pasukan di bukit Uhud. Tatkala pasukan pemanah yang di atas bukit turun untuk merebut harta rampasan perang, Malik bin Sinan tetap berdiri dan memerangi musuh yang berbalik menyerang dari balik gunung. Ia kemudian mendatangi Rasulullah dan mengusap darah yang ada di wajah Rasulullah.

Malik bin Sinan lalu kembali terjun berperang melawan orang-orang Musyrik hingga tubuhnya tercabik-cabik oleh tombak dan pedang. Sebelum jasadnya dikuburkan, Rasulullah saw kembali membanggakan Malik bin sinan di hadapan kaum muslimin lainnya, dan beliau mengatakan, “Barang siapa yang ingin melihat orang yang darahku dan darahnya bercampur. Lihatlah pada Malik bin Sinan.Subhanallah, Maha Suci Allah.

Saudaraku,

Menjalani amanah hidup untuk tetap di jalan Allah perlu pengorbanan. Itulah satu-satunya pengorbanan yang tak pernah memberi kerugian. Itulah pengorbanan yang pasti membawa kebaikan. Malik bin Sinan telah berkorban untuk jalan ini hingga ia menuntaskan hidupnya di puncak pengorbanannya itu. Pengorbanan di jalan Allah, memang selalu membawa barakah dan keuntungan.

Coba renungi kisah lainnya ini yang pernah dituliskan Imam Hasan Al-Banna dalam memoarnya. Suatu ketika, ia diundang untuk menyampaikan ceramah di Porsaid. Tapi sayang, pada saat Al-Banna harus pergi ia mengalami sakit yang cukup parah, hingga ia tidak bisa melanjutkan perjalanan kecuali dengan berbaring dari Islamiyah ke Porsaid. Dokter Mahmud Bek Shadiq yang memeriksa Al-Banna sudah mengingatkan jika ia melanjutkan niatnya untuk pergi ke Porsaid pada malam itu, maka sakitnya akan tambah parah. Namun, Imam Al-Banna menuliskan :

“Aku tetap bertekad untuk melanjutkan perjalanan dengan dipapah, hingga aku turun dari kereta menuju rumah Ikhwan di Porsaid. Aku melakukan sholat magrib di sana sambil duduk karena tak mampu lagi untuk berdiri. Tapi aku merasakan ada perubahan jiwa luar biasa ketika itu. Aku begitu memaknai kebahagiaan Ikhwan di Porsaid dengan acara yang akan mereka gelar serta harapan mereka dari acara itu. Mereka gembira telah membuat acara itu dengan biaya dan uang mereka sendiri. Tanpa terasa air mataku meleleh. Aku menangis. Aku bermunajat pada Allah dengan sangat khusyu’ dan aku tenggelam dalam suasana yang aneh ketika itu. Hingga ketika datang waktu shalat Isya, tiba-tiba aku merasakan kondisi tubuhku kembali pulih. Aku bahkan bisa sholat Isya sambil berdiri. Aku merasa mendapat suplai kekuataan yang sangat menakjubkan. Kesembuhan total dan kebersihan suara yang sangat aneh.” (Mudzakiratu Dakwah wa Daiyah,98-99)

Saudaraku,

Mari buktikan, apa saja yang kita beri dalam menjalani perintah-Nya, tak pernah berakhir pada kekecawaan. Mari rasakan, tatkala keikhlasan kita memberi, berbalas pada keajaiban-keajaiban. Mari alami pertolongan dan bantuan-Nya, ketika kita tulus menunaikan amanah hidup di jalan Allah. Mari kita berkorban apa saja di jalan Allah Ta’ala.

 

sumber: majalah Tarbawi Juli 2003, kolom Ruhaniyat

Leave a Reply