Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan harta bendanya maka matinya adalah mati syahid. Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan darahnya maka matinya mati syahid. Dan, barangsiapa terbunuh karena mempertahankan keluarganya maka matinya pun mati syahid. (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Oleh karena itu, jika datang orang yang beragama lain dalam upaya membujuk, merayu, bahkan kadang-kadang memaksakan supaya kita yang telah beragama Islam beralih memeluk agama yang mereka bawa, dan mereka menganggap bahwa upaya itu adalah demi hak-hak asasi manusia, maka bagi kita (ummat Islam), mempertahankan agama kita, Islam, ini pun juga adalah hak-hak asasi manusia.

[baca sebelumnya: Hak-Hak Asasi Manusia – Jihad dan Syahid (bag. 1)]




[baca sebelumnya: Hak-Hak Asasi Manusia – Jihad dan Syahid (bag. 2)]

Nabi memerintahkan kita untuk mempertahankan harta kita yang hendak diambil orang. Bahkan, kalapun kita terbunuh lantaran mempertahankan harta milik kita, maka kita mati syahid. Sedangkan orang yang mengambil harta milik kita itu, kalau ia mati terbunuh disebabkan kewajiban kita mempertahankan hak milik kita, kematiannya menyebabkan diri orang tersebut masuk neraka. Mempertahankan harta yang tidak akan dibawa mati saja mati syahid, apalagi mempertahankan aqidah.

Namun, orang yang diam saja, menyerah saja anaknya dimurtadkan orang dengan berbagai cara, atau masjidnya hendak diganti menjadi tempat ibadah ummat lain, demi kerukunan beragama, demi toleransi, maka kerukunan beragama dan toleransinya itu bukanlah kerukunan beragama dan bukanlah toleransi, melainkan dayus! Pengecut dan kehinaan.

Inilah mereka yang disebut oleh sayyidina Abu Bakar dalam hadits yang dicantumkan diatas, bahwa mereka yang dayus itu akan di azab oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kata-kata dayus ini biasanya dipakai untuk seorang laki-laki yang pulang ke rumahnya tengah malam, kemudian didapati istrinya sedang ditiduri laki-laki lain, lalu ia hanya sabar saja. Laki-laki yang demikian itu dipandang hina dan pengecut, dan mengatakan seorang laki-laki dayus adalah penghinaan yang paling besar bagi seorang yang beragama Islam.

Kalau ia tahu akan harga diri dan hak-hak asasinya sebagai manusia yang normal, lalu ditikamnya si pengacau rumah tangga itu sampai mati, maka si pengacau rumah tangga itu akan masuk neraka. Namun, kalau sekiranya ia sendiri yang mati lantaran mempertahankan kehormatan rumah tangganya, ia pun mati syahid. Itulah maksud, “Barangsiapa mati terbunuh karena mempertahankan keluarganya, maka matinya pun mati syahid“.

Oleh karena itu, kata jihad wajib dikembangkan terus. Ketakutan menyebut perkataan jihad adalah dikarenakan telah hilangnya kepribadian sebagai muslim, atau memang disengaja untuk menghilangkan harga diri sebagai muslim sejati.

Oleh karena itu, sekarang ini kita kaum muslimin wajib mempertahankan jihad pada diri kita, bukan untuk melawan pemerintah, melainkan untuk mempertahankan Surat Keputusan Pemerintah No. 70 dan No. 77 demi kerukunan beragama di negeri yang kita cintai ini dan juga untuk mempertahankan hak-hak asasi manusia yang ummat Islam pun turut memilikinya.

 

oleh: Buya Hamka (rubrik Dari Hati Ke Hati majalah Panji Masyarakat 1967-1981)