Seruan jihad menghampiri telinga Hanzhalah bin Abu Amir, ketika ia tengah memadu kasih di malam pertama pernikahannya dengan Jamilah binti Abdullah bin Ubay. Sebagai seorang manusia, sungguh fitrah berbahagia dalam menghabiskan malam pertama di mana kenikmatan yang mulanya haram telah berubah menjadi halal dan berbuah pahala. Rasulullah Saw dengan penuh pengertian telah mengizinkan dia untuk tidak ikut serta dalam peperangan esok hari. Namun, malam itu ketika genderang perang mengalun lantang, Hanzhalah membuat keputusan yang tidak semua orang bisa melakukannya. Ia sungguh mencintai Jamilah istrinya. Tetapi ia juga teramat sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya. Sahabat mulia itupun tidak bisa mengabaikan seruan jihad itu. Karena itu, ia melepaskan diri dari pelukan Jamilah. Lalu Hanzhalah bergegas mengenakan baju perangnya dan bersegera berangkat ke medan tempur. Sang istri pun melepasnya dengan harapan mulia, menang atau syahid.

Bukit Uhud dipenuhi oleh tentara lawan dan pasukan Islam, termasuk telah ada di antaranya adalah Hanzhalah bin Abu Amir. Ketika seseorang telah sanggup meninggalkan suatu kenikmatan untuk datang berjihad, maka kehadirannya di medan perang sungguhlah punya ghirah yang luar biasa. Dengan penuh gagah berani, dia maju tak gentar merangsek ke barisan tentara kafir Quraisy sambil menghunuskan pedang ke tubuh mereka. Ia pun mengincar sosok Abu Sufyan. Langkahnya sampai pada melumpuhkan kuda Abu Sufyan dan membuat penunggangnya tersebut jatuh terjungkal. Ia hampir memenggal kepala Abu Sufyan. Namun, Allah Swt berkehendak lain. Kawan Abu Sufyan, Syadad bin Aswad datang menangkis serangan Hanzhalah dan menebas tengkuknya. Sahabat Rasulullah tersebut jatuh tersungkur. Dalam kondisinya yang telah berlumur darah, tentara lawan masih menghujaninya dengan pedang dan tombak. Hanzhalah pun syahid.

Tidak lama setelah itu kecamuk perang berakhir. Kedukaan mengisi atmosfer udara yang dipenuhi dengan pemandangan jenazah para pasukan syahid. Salah satunya Hanzhalah. Seseorang yang berapa jam sebelumnya rela meninggalkan kekasih tercintanya di hari bahagia dan hadir di sini untuk menyerahkan nyawa demi Dzat Maha Pengasih yang lebih dicintainya. Semburat cahaya dari langit membungkus jasad Hanzhalah dan mengangkatnya setinggi mata memandang. Hujan turun sambil tubuhnya yang kemudian terbolak-balik–seolah air ingin membasuhi setiap bagian yang ada. Bayang-bayang putih pun berkelibat di antara guyuran air hujan. Para sahabat yang ada di sana sampai menatap heran sekaligus takjub.




Sambil menyerahkan jenazah Hanzhalah, Rasulullah Saw bertanya kepada Jamilah tentang suaminya tersebut. “Apa yang dilakukan Hanzhalah sebelum kepergiannya menuju medan perang?”

Jamilah menunduk dengan pipi merona. Dengan senyum tipis dan malu-malu, ia menjawab, “Hanzhalah pergi dalam keadaan junub dan belum sempat mandi ya Rasulullah.”

Kemudian Rasulullah berkata, “Ketahuilah bahwa jenazah Hanzhalah telah dimandikan oleh malaikat. Dan bayang-bayang putih yang melintas di sekitarnya adalah para bidadari surga.”

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Ash Shaff [61]: 10-12)