Penghormatan Islam yang diberikan kepada para Nabi dan setiap kitab suci terdahulu terpampang jelas di dalam kita suci Al Qur’an, karena sesungguhnya Islam adalah kelanjutan dari dakwah para Nabi untuk membawa agar ummat manusia mau tunduk patuh dan hidup dibawah arahan Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Secara umum penghormatan terhadap para Nabi dan seluruh kitab terdahulu, Allah subhanahu wa ta’ala sampaikan dalam Al Qur’an:

[sebelumnya baca: Islam, Arab dan Kebangsaan]

[sebelumnya baca: Islam, Arab dan Kebangsaan 2]




Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami wahai Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”  (QS Al Baqarah[2]:285)

Tak hanya sampai di sini saja. Islam tak hanya menghargai para Nabi sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, kitab dan ummat terdahulu. Tetapi Islam sebagai agama yang hanif (lurus) membuka pintu untuk tolong-menolong dan saling berhubungan dengan orang-orang yang pada saat itu telah beriman kepada kitab terdahulu, selama dalam batas-batas yang diperkenankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan[402] diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. (QS Al Maidah[5]:5)

Perhatikanlah bagaimana agama Islam membuka jalan yang lapang untuk kita agar dapat saling tolong menolong, bantu membantu dan saling berhubungan dengan orang lain dalam lapangan pekerjaan, kemasyarakatan dan lain sebagainya. Asalkan, kita tidak dan jangan sampai mengorbankan prinsip-prinsip Islam.

Dengan kedua acuan tersebut, maka Islam dapat membawa manusia ke arah kemajuan yang senantiasa bertumpu pada keluhuran jiwa. Dan senatiasa menghasung mereka untuk berkiprah melakukan berbagai kebajikan dan kemanfaatan bagi umat manusia. Menegakkan keadilan yang merata yang tidak membedakan kelas dan golongan seperti yang pernah terjadi dalam sejarah.

Misalnya, kasus raja Ghassan yang berperkara dengan seorang rakyat jelata yang kemudian diputuskan oleh khalifah dengan memenangkan si rakyat kecil karena ia berada di pihak yang benar. Demikian pula kasus Ali bin Abu Thalib yang berkedudukan sebagai khalifah dan berperkara dengan seorang Yahudi karena masalah pakaian. Tetapi oleh Hakim Syuraik, khalifah Ali bin Abu Thalib dikalahkan karena tidak dapat mengemukakan bukti yang akurat.

Oleh karena itu, sebagai muslim kita harus bangga dengan keislaman kita. Bangga pula terhadap Al Qurán yang diturunkan oleh Dzat Yang Menguasai alam ini dan Dzat Yang Maha tahu tentang apa yang terbaik untuk kehidupan kemanusiaan.  Sudah seharusnya setiap muslim menjadikan Islam sebagai suatu ajaran untuk mewarnai seluruh kehidupan praktisnya, baik mengenai hukum, perundang-undangan, kebudayaan, dasar dalam mengambil setiap keputusan dalam hidupnya maupun peradaban kita.

Bagi setiap muslim, Islam adalah agama dan aqidah. Islam juga adalah warisan peradaban manusia dan juga kebangsaan bagi kita, karena kebangsaan dalam Islam menembus segala batas, baik batas geografis, warna kulit, bahasa maupun suku bangsa. Tidak ada yang namanya Islam Indonesia ataupun Islam Arab. Hanya orang-orang yang jauh terhadap ajaran-ajaran Islam saja yang mampu menyatakan ada Islam Indonesia dan Islam Arab. Islam adalah satu, dimanapun kita berada dan dari bangsa manapun kita berasal. Rasulullah shallallahu álaihi wassalam sebagai utusan Allah subhanahu wa ta’ala hanya membawa Islam, bukan Islam Arab maupun Islam Indonesia. Islam menembus segala sekat buatan manusia, oleh karena itu bagi setiap muslim sejati, maka Islam adalah juga kebangsaan baginya.

Bagi setiap muslim, Islam dengan Al Qur’annya juga adalah sebuah kebanggaan yang abadi dan sebuah mukjizat yang kekal.

Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (QS Az Zukhruf[43]:44)

Mari kita akhiri dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya? (QS Al Anbiya[21]:10)

Dari Sayyidina Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu, baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 

“Sesungguhnya Allah Subhaanahu wata’ala mengangkat derajat beberapa kaum dengan Al-Qur’an ini dan merendahkann yang lain dengannya pula.” (HR Muslim)

Dan Kami turunkan dari Al Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al Qur’an itu tidak menambah bagi orang-orang yang zhalim selain kerugian. (QS Al Isra’[17]:82)

 

sumber: buku Cahaya Dari Balik Kabut karya Syaikh Hasan Al Banna