Setelah mengukuhkan prinsip-prinsip utama dalam tashawwur Islam dan menegaskan penghadapan diri hanya kepada Allah dengan ibadah dan memohon pertolongan, maka tiba saatnya mengaplikasikan prinsip-prinsip tersebut dengan memanjatkan doa kepada Allah dalam ungkapan umum dan mendasar sesuai dengan suasana dan karakteristik surat ini.

“Ihdinash shiraatalmustaqiim. Shiraatalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalliin.” (Tunjukilah kami jalan yang lurus; yaitu jalan orang-orang yang Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”

Tuntunlah kami untuk mengetahui jalan lurus yang akan mengantarkan kepada tujuan dan tuntunlah kami agar istiqamah di atasnya setelah mengetahui. Karena pengetahuan dan keistiqamahan adalah buah dari petunjuk, pemeliharaan, dan rahmat Allah. Menghadapkan diri kepada Allah dalam persoalan ini merupakan buah keyakinan bahwa Dia adalah satu-satunya Penolong. Perkara ini adalah perkara paling besar dan paling pertama diminta oleh seorang Mukmin dari Tuhannya agar memperoleh pertolongan padanya. Karena petunjuk kepada jalan yang lurus adalah jaminan kebahagiaan di dunia dan akhirat secara meyakinkan. Petunjuk tersebut hakikatnya merupakan petunjuk fitrah manusia kepada tata aturan Allah yang mengatur serasi antara gerak kehidupan manusia dan gerak alam semesta yang menuju ke Allah, Tuhan semesta alam.




Kemudian diungkapkanlah tentang karakteristik jalan yang lurus ini: “Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.” Yaitu, jalan orang-orang yang telah memperoleh pembagian nikmat-Nya, bukan jalan orang-orang yang dimurkai-Nya karena mereka mengetahui kebenarannya tapi kemudian berpaling darinya, bukan pula jalan orang-orang yang tersesat dari kebenaran sehingga tidak tahu jalan kebenaran sama sekali. Sesungguhnya jalan tersebut adalah jalan orang-orang yang berbahagia, memperoleh petunjuk, dan telah sampai ke tujuan.

Inilah surat yang terpilih untuk diulang-ulang di setiap shalat dan tidak sah tanpa membacanya. Di dalam surat yang pendek ini terdapat sejumlah prinsip utama tentang tashawwur Islami dan berbagai haluan perasaan yang bersumber dari tashawwur tersebut. Disebutkan di dalam Shahih Muslim sebuah hadits al-Ala’ bin Abdur Rahman Maula al-Hirqah dari bapaknya, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,

“Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku membagi shalat antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Separuhnya untuk-Ku dan separuhya lagi untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Apabila hamba mengucapkan: ‘Segala puji bagi Allah’ maka Allah berfirman: ‘Hamba-Ku memuji-Ku’. Apabila ia mengucapkan: ‘Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang’ maka Allah berfirman: ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku’. Apabila ia mengucapkan: ‘Penguasa hari pembalasan’ maka Allah berfirman: ‘Hamba-Ku mengagungkan-Ku’. Apabilia ia mengucapkan: ‘Hanya kepada-Mu aku beribadah dan hanya kepada-Mu aku meminta pertolongan’, maka Allah berfirman: ‘Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta’. Apabila ia mengucapkan; ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan yang telah Engkau karuniai nikmat, bukan jalan-jalan orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat’ maka Allah berfriman: ‘Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi)

Hadits shahih ini–setelah memperoleh kejelasan sedemikian rupa dari konteks surat ini–bisa menyingkap salah satu rahasia dipilihnya surat ini untuk diulang-ulang seorang Mukmin tujuh belas kali dalam sehari semalam, atau lebih dari itu, setiap kali ia berdiri menyeru-Nya di dalam shalat.

(Sumber: Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Ustadz Sayyid Quthb)