Janganlah kalian mencaci para sahabatku. Jika diantara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, maka belum menyamai segenggam dari mereka dan tidak pula setengah genggam dari mereka.” (HR.Bukhari)

Suatu ketika Abdullah bin Mas’ud ra yang dikenal sebagai orang berperawakan kecil dan kurus, ia memanjat sebuah pohon untuk mengambil siwak. Ketika ia memanjat pohon tersebut, tiba-tiba saja angin bertiup dengan begitu kencangnya sehingga menyibakkan jubahnya, dan terlihatlah kedua betisnya yang kecil. Melihat betisnya tersebut, orang-orang disekitarnya tertawa, “betis Ibnu Mas’ud kecil” kata mereka sambil tertawa.

Melihat orang-orang tertawa, Rasulullah saw merasa heran dan beliau bertanya, “Apa yang membuat kalian tertawa?”




Orang-orang tersebut menjawab sambil menahan tawa, “Kami baru saja melihat betis Ibnu Mas’ud yang kecil, ya Rasulullah,”

Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah diam dan tak tersenyum. Beliau kemudian memerintahkan para sahabat yang tertawa itu untuk diam. “Ketahuilah! Demi Allah! Sesungguhnya di sisi Allah kedua betis Ibnu Mas’ud itu lebih berat timbangannya daripada Gunung Uhud,” jelas beliau.

Dalam kesempatan lain pun, beliau bersabda, “Janganlah kalian mencela seorang pun diantara para sahabatku. Sesungguhnya, andai ada salah salah satu diantara kalian yang bisa berinfak emas sebesar Gunung Uhud, maka itu tidak akan bisa menyaingi infak salah seorang diantara mereka yang hanya sebesar genggaman tangan atau bahkan setengahnya saja.” (HR.Bukhari)

Begitulah pujian Rasulullah saw kepada para sahabat yang setia. Sahabat-sahabat Rasulullah saw, adalah kaum yang terpuji. Kemuliaan mereka bahkan melebihi apa-apa yang bernilai di dunia ini.

Saudaraku…

Para sahabat Rasulullah saw adalah generasi terbaik yang patut kita jadikan teladan. Rasulullah saw memuji kedudukan sahabat-sahabat beliau sebagai generasi terbaik. Mereka ibarat bintang-bintang yang menyinari bumi pada malam hari. Mereka adalah orang yang hidup semasa dan berjumpa dengan Rasulullah saw. Mereka berdialog, mengetahui, berjuang, berdakwah, serta meneladani Rasulullah saw, dalam kehidupan mereka.

Merekalah yang paling memahami ucapan dan perilaku Rasulullah saw. Bahkan, ayat-ayat Al-Quran pun turun tatkala Rasulullah saw bersama mereka.

Salah seorang sahabat tercinta, Abdullah bin Mas’ud ra menasehati kita, “Barangsiapa hendak mengambil teladan, teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka adalah para sahabat Muhammad saw. Mereka adalah orang-orang yang berhati paling baik di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam. Mereka pun tidak suka membeban-bebani diri.

Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah swt guna menemani Nabi-Nya dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu, tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka. Sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.

Di tengah krisis keteladanan saat ini, masyarakat butuh pribadi-pribadi yang berkarakter mulia seperti Abu Bakar ra, yang jujur Umar ra bin Khattab ra, yang tegas dan adil, Usman bin Affan ra yang pemurah, Ali bin Abi Thalib ra, yang cerdas dan berwawasan luas, serta keteladanan sahabat-sahabat lain pada masa lalu. Meneladani kehidupan mereka ibarat melihat “peta perjalanan” yang jelas, yang kelak memberi petunjuk kepada kita menuju hidup yang selamat, harmonis, dan bahagia dunia akhirat.