Menapaki Hidup di Tengah Zaman Fitnah (bag. 4)




Dalam masalah persenjataan, Nabi pernah meminjam senjata dari orang-orang Yahudi yang rata-rata mempunyai usaha membuat senjata perang. Kerjasama ini dengan syarat, kekuasaan ditangan kita adalah bentuk jaringan untuk menopang kekuatan umat Islam. Tentu sekali lagi, kerjasama yang disyariatkan dan yang tidak membahayakan Islam.

[baca sebelumnya: Menapaki Hidup di Tengah Zaman Fitnah (bag. 1)]

[baca sebelumnya: Menapaki Hidup di Tengah Zaman Fitnah (bag. 2)]




[baca sebelumnya: Menapaki Hidup di Tengah Zaman Fitnah (bag. 3)]

Pada masa kekhilafan Abbasiah, para khalifah tidak mau ketinggalan ilmu pengetahuan yang beredar di negeri non muslim. Maka mereka membuat sebuah lembaga penterjemah buku untuk perpustakaan Islam dan anak-anak muslim. Para perterjemahnya sebagiannya bukan muslim. Tetapi tetap dalam pengawasan kekhilafahan.

Segala jaringan kekuatan harus dibuat. Harus dipintal ulang agar kita berjalan tanpa fitnah. “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal[8] : 60)

Keempat, Tetap Pertahankan Keimanan Kita

Pada masa bertebarannya fitnah, sering kali iman kita tidak tertahankan. Terkadang pada beberapa peristiwa, merembet sampai pada tingkat melepas keimanan. Melepas identitas sebagai seorang muslim.

Tetap berjalan di atas kebenaran, tetap mempertahankan keimanan adalah keniscayaan. Karena iman kita tetap lebih mahal dari segala yang ada. Justru di saat seperti inilah, dibuktikan keimanan yang benar-benar baja. Dipilahnya mutiara dari lumpur.

Dengan mempertahankan keimanan, kita menjadi tetap tenang. Karena kita mempunyai pegangan dan tolak ukur yang jelas tentang kebenaran. Peristiwa fitnah diluar menuntut kita untuk menilai. Dengan keistiqomahan, kita mempunyai pendirian yang kuat dalam menilai dan tidak tergoyahkan. Agar tidak termakan oleh penilaian luar yang hari ini dikuasai dunia Barat.

Kita harus bisa bersikap tenang seperti yang ditunjukkan oleh Hudzaifah, ketika Abu Mas’ud suatu hari mengadukan fitnah yang terjadi di luar. “Bukankah keyakinan telah datang. Yaitu Al-Quran.”

Ya, Al-Quran selamanya tetaplah parameter yang tak pernah salah dan tak ada keraguan. Diluar boleh saja beredar berita dan penilaian apapun. Tetapi Al-Quran tetaplah ukurannya, bukan penilaian yang beredar itu.

Keistiqamahan ini tidak boleh goyah walau diguncang oleh badai fitnah sebesar apapun. Iman sesuatu yang paling mahal dan tidak mungkin ditukar dengan apapun dalam kehidupan seorang muslim.

Kelima, Diamlah kalau Memang Fitnah Ini Terlalu Gelap

Fitnah yang terjadi hari ini penuh dengan misteri. Tanda tanya datang dari berbagai pihak dalam berbagai segi. Namun semuanya tanpa hasil. Nihil. Pertanyaan tetap saja menjadi pertanyaan. Tanpa jawaban.

Diam adalah langkah yang paling baik. Sambil terus mengamati perkembangan. Membuka telinga dan mata lebar-lebar untuk memantau arah fitnah berjalan.

 

bersambung…

sumber : majalah Tarbawi September 2003, Kolom Dirosat

Leave a Reply