Ayah dan guru penulis, Dr. Syekh Abdulkarim Amrullah menulis di dalam bukunya Al Qaulush Shahih (cetakan ke-2, 1926). “Sebab kenapa dinamai mujadid ialah karena tiap diada-adakan orang yang bid’ah pada agama, niscaya ia akan mematikan sunnah yang bertentangan dengan bid’ah itu. Maka orang-orang yang menghidupkan sunnah pada waktu itu samalah artinya dengan memperbaru kembali. Atau, ia dipandang oleh orang yang telah lama di dalam bid’ahnya itu sebagai pembawa perubahan baru, sebab yang mempertahankan bid’ah itu tidak mempunyai pengetahuan tentang perjalanan sunnah yang lama tadi. Jadi, bukan sebenar-benarnya barang baru karena sunnah itu memang barang yang lama adanya.”

Kata beliau seterusnya, “Oleh karena yang demikian itu maka yang dimaksud dengan mujadid itu tidaklah patut diberikan. Hanya kepada orang yang alim dengan segala rupa ilmu agama, lahir, dan batinnya, ushul dan furu’nya, ilmu tafsir Al Qur’an dan ilmu hadits, dan apa yang bersangkutan dengan semuanya itu, supaya dapatlah ia mempersisihkan di antara yang sunnah dan bid’ah.”

Maka, menjadi perbincanganlah di antara ahli – ahli sejarah tentang orang yang telah mujadid itu. Di antara mereka ada yang mengatakan seorang pada setiap pangkal abad, dan setengahnya lagi mengatakan berbilang, menurut bidang mereka masing-masing. Hampir sependapatlah mereka bahwa mujadid pada awal kurun yang pertama ialah pada Khalifah Bani Umayyah yang terkenal, Amirul Mu’minin Umar bin Abdul Aziz.




Diuraikan oranglah sejarah, betapa telah meleset jauhnya perjalanan Islam sejak zaman Bani Umayyah. Kemewahan dan kemegahan telah menyebabkan kebanyakan orang lupa akan dasar hidup beragama. Khalifah – khalifah sendiri tidak lagi menurut teladan yang ditinggalkan oleh khalifah berempat yang pertama (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali), malahan telah meniru hidup raja – raja.

Kalau Nabi Muhammad Saw menganjurkan supaya yang kuat membela yang lemah, di zaman itu keringat dan darah si lemahlah yang diperas oleh si kuat untuk kepentingan dirinya. Sampai khutbah Jum’at sendiri pun dijadikan medan propaganda untuk membusukkan lawan politik. Mu’awiyah sendiri yang memasukkan kutukan kepada Ali bin Abi Thalib, dan Syiah-nya pada khutbah kedua.

Umar bin Abdul Aziz, setelah beliau menjadi khalifah, mengadakan tajdid (pembaruan), memperbarui semangat orang beragama agar kembali kepada sunnah Nabi. Di antaranya ialah mengembalikan khutbah kepada maksud yang sebenarnya dan menghapuskan cela makian Bani Umayyah kepada Ali dan syiah-nya, lalu menggantinya dengan seruan kepada keadilan dan ihsan sehingga sampai sekarang ini masih dihiaskan khatib-khatib di ujung khutbah kedua.

bersambung…

(Salah satu tulisan Buya Hamka pada rubrik Dari Hati Ke Hati  majalah Panji Masyarakat 1967-1981)