Abu Musa Al Asy’ari, Sang Ahli Hukum Umat Islam




Abu Musa atau yang memiliki nama asli Abu Abdullah bin Qeis suatu hari meriwayatkan sebuah hadits dan mengatakan bahwa Rasulullah pernah berkata, “Allah Swt akan senantiasa membuka lebar-lebar tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari dan Allah akan senantiasa membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada malam hari, dan yang demikian berlaku terus hingga matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim)

Abu Musa adalah salah satu sahabat Nabi Saw yang banyak meriwayatkan hadits. Ia dikenal sebagai sosok yang ahli dan cerdas dalam urusan fiqih, karena seringkali memahami setiap persoalan yang muncul. Ia juga termasuk sosok yang disebut sebagai ahli hukum umat Islam selain tiga sahabat lainnya: Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Tsabit. Abu Musa merupakan seseorang yang lembut dan memiliki suara indah setiap melantunkan Al Qur’an. Rasulullah bahkan menjulukinya sebagai ‘Seruling keluarga Nabi Daud’.

Dibalik perangainya yang lembut dan juga seorang ahli hukum, Abu Musa adalah seorang penguasa yang berani. Sampai-sampai Rasulullah Saw menyebutnya sebagai ‘tuan para ksatria’. Pada masa khalifah Umar bin Khattab ia diangkat sebagai wali kota Bashrah dan pernah suatu hari ia berbicara di depan para rakyatnya, “Amirul Mukiminin mengutusku untuk mengajarkan kepada kalian kitab Allah dan sunnah Rasul, serta membersihkan jalan hidup kalian.” Demikianlah sosok Abu Musa yang begitu bertanggung jawab dalam mengemban amanah da’wah, serta menegakkan kebenaran di antara umat Islam. Pada masa khalifah Ustman bin Affan pun ia diangkat sebagai wali kota Kuffah.




Abu Abdullah bin Qeis lahir dan besar di Yaman. Di usianya yang terbilang muda, ia mengingkari kebiasaan masyarakat di sekitarnya yang menyembah berhala. Menurutnya penyembahan berhala tidak memberikan manfaat atau bahaya sekalipun. Karena itu saat mendengar ada seorang di Mekkah yang bernama Muhammad bin Abdullah membawa ajaran tauhid (ibadah yang mengesakan Tuhan) dan mengajarkan kebaikan (amar ma’ruf), ia segera meninggalkan Yaman untuk menemui sosok Muhammad tersebut.

Di Mekkah Abu Musa mengimani sosok Muhammad sang Rasulullah dan begitu tekun menghabiskan waktu dalam mempelajari ajaran yang dibawanya. Abu Musa kembali ke Yaman untuk mengajarkan agama tauhid yang dibawa Rasulullah kepada orang-orang di sana. Setelah Perang Khaibar, Abu Musa membawa sekitar 50 orang–termasuk dua saudaranya, Abu Ruhm dan Abu Burdah–kembali ke Mekkah untuk mempelajari lebih dalam agama Islam. Rasulullah Saw pun menyambut hangat kedatangan kembali Abu Musa yang kali ini beserta rombongannya. Beliau menjuluki mereka sebagai ‘Al Asy’ariun’ yang artinya orang-orang Asy’ari.

Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu adalah sosok sahabat yang begitu disayangi dan dipercaya oleh Rasulullah Saw. Terlebih karena ia begitu memahami hukum dan pandai dalam fiqih. Sebelum menjadi wali kota di masa khalifah Umar dan Ustman, Abu Musa juga pernah diangkat oleh Rasulullah sebagai wali kota di Zabid dan Adnan.

Suatu hari Abu Musa pernah berkata, “Ada dua hal yang dapat memutus dariku kenikmatan dunia, yaitu mengingat mati dan mengingat dosa di hadapan Allah Swt.” Sang ahli hukum umat Islam ini kemudian wafat pada tahun 44 Hijriah di kota Kuffah.

Oleh: Malaika Shadleen

Leave a Reply