“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2]: 216)

Tanpa berpikir dalam dan membayangkan suatu konsekuensi, manusia akan cenderung merasa bahwa peperangan di jalan Allah adalah kewajiban yang berat. Mengapa? Karena sungguh sudah tabiat manusia tidak nyaman dengan suatu kondisi penuh konflik. Bahkan Allah Swt sebagai Dzat yang Menciptakan sudah mengetahuinya, bahwa perintah-Nya tersebut akan bertentangan dengan tabiat manusia –yang tidak lain adalah makhluk ciptaan-Nya.

Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilallil Qur’an mengungkapkan makna yang bisa kita peroleh dari ayat tersebut, surat Al Baqarah ayat 216. Suatu kondisi mengenai kewajiban jihad dan bagaimana fitrah manusia meresponnya. Allah Swt sebagai Sang Pencipta adalah pihak yang paling Mengetahui karakter ciptaan-Nya, sehingga dalam firman-Nya Allah Swt pun telah mengungkapkan bahwa manusia mungkin tidak akan menyukai perkara tersebut. Allah Swt sangat Memahami bagaimana fitrah ciptaan-Nya dalam merespon perintah-Nya.




Islam tidak mengingkari beratnya kewajiban jihad karena Islam mempertimbangkan fitrah manusia. Islam tidak mengingkari dan melarang perasaan-perasaan fitrah yang keberadaannya bagaimanapun tidak bisa diingkari. Allah Swt memang telah Menciptakan manusia lengkap dengan fitrah tersebut. Karena itu, Islam menghadapi perkara ini melalui sudut pandang lain.

Jihad merupakan kewajiban yang harus dilakukan karena di dalamnya mengandung kebaikan, kebenaran, dan kesalehan bagi individu Muslim, jama’ah Muslim, dan seluruh umat manusia. Islam menegaskan bahwa di antara kewajiban yang diperintahkan oleh Swt memang ada yang berat, pahit, dan tidak enak. Tetapi sesungguhnya di balik kewajiban ini ada hikmah yang akan membuat sesuatu yang berat menjadi ringan; yang pahit menjadi manis; dan akan mewujudkan kebaikan terpendam yang mungkin tidak dapat dilihat oleh penglihatan manusia yang terbatas.

Kewajiban ini akan membukakan jendela baru jiwa manusia, di mana kita dapat melihat persoalan dan sudut pandang lain dari apa yang kita lihat selama ini. Jendela ini akan mengembuskan kesejukan di balik persoalan yang dihadapi manusia, bahwa ada kebaikan dibalik perkara yang tidak kita sukai, dan ada keburukan dibalik perkara yang kita sukai. Hanya Allah Swt yang mengetahui tujuan-tujuan jauh yang tidak bisa kita lihat dan akibat apa yang tersembunyi di dalamnya. Jendela ini akan menunjukkan harapan dan mengembuskan keteduhan bagi hati manusia, serta membawa pada ketaatan dengan penuh yakin dan ridha.

Demikian Islam menghadapi fitrah manusia. Tidak mengingkari perasaan naluriah yang ada dan tidak pula mempersulitnya karena kewajiban. Karena itu Islam membinanya melalui taat dan membukakan pintu harapan. Sayyid Quthb menyampaikannya dengan begitu indah.

“Demikianlah Islam membina fitrah, sehingga ia tidak bosan dengan kewajiban, tidak berkeluh kesah saat benturan pertama, tidak kecut menghadapi kesulitan yang muncul, tidak terguncang dan tidak jatuh berguguran ketika terbukti kelemahannya dalam menghadapi kondisi berat. Tetapi ia tetap tegar dengan penuh keyakinan bahwa Allah memahami kondisinya dengan memberikan pertolongan-Nya, dan meneguhkannya. Bahkan ia terus berjalan dalam menghadapi cobaan berat, karena bisa terdapat kebaikan sesudah penderitaan, terdapat kemudahan sesudah kesulitan, dan terdapat kesenangan maha besar sesudah kerja keras dan susah payah. Juga tidak tenggelam dengan apa yang dicintai dan disenangi, karena bisa jadi ada penyesalan yang tersembunyi dibalik kesenangan. Bisa jadi ada kebencian yang tersembunyi di balik kecintaan. Bisa jadi ada kehancuran yang menanti di balik harapan yang berkilauan.”