Ta’ashshub atau fanatik kepada suatu kebenaran merupakan sikap yang terpuji, bukanlah perbuatan yang tercela, dan bukan pula perbuatan yang harus dibenci. Ketika musuh-musuh kita melontarkan celaan terhadap sikap ta’ashshub kepada agama yang benar yakni Islam, dimana mereka yang mencela itu berharap dapat membelokkan generasi baru Islam dari sikap ta’ashshub pada agama Islam ini sendiri.

Dan sebagai umat muslim, kita tidak boleh menghiraukan celaan dan olok-olokkan orang-orang non Islam ini selama kita masih mengaku Islam, dan mengakui bahwa ini adalah satu-satunya agama dengan ajaran yang benar. Karena, orang Islam itu tidak akan merasa terikat pada agamanya selama mereka tidak ta’ashshub pada agamanya sendiri, dan tidak bersungguh-sungguh menjaga agama tersebut. Sebab, Islam adalah agama yang benar, yang dijadikan oleh Allah swt sebagai agama resmi bagi makhluk-Nya. Sedangkan agama lainnya selain Islam adalah batil :

Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah ialah Islam,” (QS. Ali-Imran : 19)




Ta’ashshub pada agama Islam menandakan bahwa kita meyakini Islam adalah agama yang mutlak benar. Sehingga kita senantiasa menghidup-hidupkan Islam. Menjadikannya sebagai acuan dan undang-undang dalam semua aspek kehidupan kita, baik itu yang umum ataupun yang khusus. Mari bersama kita curahkan segenap perhatian dan kemampuan kita demi tercapainya kebahagiaan umat dengan bertumpu pada ajaran-ajaran agama Islam. Membelanya dari serangan musuh dalam segala bentuknya yang berusaha memadamkan cahaya Islam dan memecah belah kita sebagai umat-Nya.

Kita harus berjuang menyingkirkan segala macam rintangan yang menghalangi jalan dakwah Islam. Tetapi ingat, kita tetap tidak boleh memaksa pemeluk agama lain untuk memeluk Islam, melainkan kita memberikan mereka kebebasan untuk berpikir secara objektif dan logis sehingga mereka akan memeluknya dengan penuh keridhaan dan keyakinan tanpa paksaan.

Mengenai masalah ta’ashshub pada Islam ini, Allah swt berfirman dalam Al-Quran :

Berpegang teguhlah pada apa yang diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya engkau di jalan yang lempang.” (Az-Zuhruf : 43)

Bukankah istimsak atau (berpegang teguh) itu berhubungan erat dengan ta’ashshub (fanatik)? Adakah istimsak tanpa ta’ashshub? Bukankah Rasulullah saw pun telah berpessan kepada kita agar berpegang teguh dengan sunnahnya? Hal ini sesuai dengan sabda beliau,

Hendaklah kamu berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khalifah-khalifahku yang lurus, yang memperoleh petunjuk. Berpegang teguhlah kamu padanya dengan sungguh-sungguh!” (HR. Abu Daud)

Dan, perlu kita ketahui bahwa segala urusan itu hanya terbagi dua saja. Apa saja itu? Yaitu adalah kebenaran dan kesesatan (kebatilan), tidak ada yang ketiga. Firman Allah swt :

Demikianlah Allah, Tuhanmu Yang Mahabenar. Sesudah kebenaran tidak ada lagi yang tinggal selain kesesatan. Maka bagaimana kamu sampai dapat dipalingkan? (Yunus : 32)

bersambung..

 

Oleh : Syaik Muhammad al-Hamid (sumber buku ‘Cahaya Dari Balik Kabut’ karya Syaikh Hasan Al-Banna)