“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang cheap oakleys yang berbuatu dzalim itu NFL Jerseys Cheap mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari Kiamat) bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah cheap nfl jerseys semuanya dan bahwa Allah amat berat wholesale football jerseys siksa-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al Baqarah [2]: 165)

Dalam kitab Tafsir Fi Zhilalil Language Qur’an, ulama Sayyid Quthb mengutarakan bagaimana peran keimanan begitu penting dan indah dalam mencintai Allah Swt. Jika seorang manusia menyingkirkan pikirannya akibat lalai, maka mereka akan selalu memiliki persepsi yang segar dalam memandang dunia.  Pandangannya akan selalu menjelajah dan memiliki hati yang disinari oleh cahaya iman. Mata mereka akan mampu melihat setiap lintasan, telinganya mampu mendengar setiap suara, dan perasaannya mampu merasakan setiap gerakan.

Inilah peran keimanan: membuka mata dan hati, menumbuhkan kepekaan, serta mengapresiasi keindahan, keserasian, dan kesempurnaan. Iman adalah pandangan baru terhadap alam, apresiasi baru terhadap keindahan, dan kehidupan di muka bumi di atas pentas ciptaan Allah. Sepanjang waktu.  Meskipun tetap saja ada orang tidak bisa melihat dan menggunakan pikirannya, sehingga menyimpang dari tauhid yang diisyaratkan. Sebagaimana disampaikan di awal ayat, “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah…”




Dahulu tandingan-tandingan Allah (selain Allah) berupa batu, pohon, bintang, galaksi, malaikat, atau bahkan syaitan. Di setiap era jahiliyah tandingan-tandingan tersebut selalu berupa benda, orang, lembaga, atau nilai. Kemusyrikan tersebut tersembunyi ataupun tampak ketika disebutkan nama Allah atau disertakan oleh seseorang yang di hatinya ada cinta Allah. Bagaimana mereka bisa menyingkirkan Allah dengan mencintai tandingan-tandingannya, padahal cinta tersebut tidak boleh diberikan kecuali pada Allah?

Sementara itu, orang-orang Mukmin yang memiliki iman di dadanyalah–orang yang disebut di awal tadi akan selalu menatap segar saat menjelajah dunia–yang mampu mencintai hanya Allah semata. Mereka tidak mencintai apapun kecuali Allah, sekalipun orang, jabatan, atau nilai keduniaan yang banyak diburu oleh manusia pada umumnya. “… Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…”

‘Amat sangat cintanya kepada Allah,’ menggambarkan bagaimana orang-orang beriman mencintai Allah dengan penuh totalitas, sehingga tidak ada satu hal pun yang mampu menandinginya. Mereka lepas dari segala ikatan. Cintanya kepada Allah lebih besar dibanding segala cinta yang dipersembahkan kepada selain-Nya. Sayyid Quthb menggambarkan bahwa hubungan seorang Mukmin dengan Allah sesungguhnya adalah hubungan cinta.

Ungkapan dengan cinta (al-hubb) di sini merupakan ungkapan yang sangat indah, di samping merupakan ungkapan yang sangat indah, di samping merupakan ungkapan yang benar dan jujur. Karena hubungan antara Mukmin sejati dan Allah adalah hubungan cinta. Hubungan jalinan hati dan daya tarik spiritual. Hubungan kasih jordan retro 11 sayang dan keakraban. Hubungan jiwa yang diikat dengan rasa cinta yang penuh cahaya dan kasih sayang.

Allahua’lam.