Menemukan Masjid di Negeri Antah Berantah




Satu hal menarik yang bisa digali oleh para turis di Cartagena de Indias di utara Colombia adalah berdirinya sebuah masjid di tengah-tengah negeri antah berantah–sebuah daerah terpencil di pinggiran kota yang berbatasan dengan Laut Karibia di La Boquilla. Muslim di negara Colombia memang sangat terbatas. Hanya ada sekitar 15.000 Muslim dari 4,9 juta penduduk, sehingga untuk kota seperti Cartagena dengan jumlah penduduk 1,2 juta jiwa, menjumpai warga Muslim adalah sesuatu yang cukup langka.

Satu-satunya masjid di Cartagenan terletak di sebuah tempat yang cheap jordan shoes bahkan mungkin tidak banyak orang tahu atau mudah menjumpainya di peta. Setelah bimbang antara pergi atau tidak pergi menuju Sector Marlinda Calle Segunda di La Boquilla yang merupakan lokasi masjid tersebut (terlebih saat kami mencoba menghubungi nomor telepon pihak mushala tapi tidak seorang pun menjawab), kami memutuskan untuk menelusuri jalan dan pergi ke sana dengan sebuah taksi.

Kami pergi berempat, termasuk sang supir taksi. Setelah melewati daerah mewah sekitar 7 km ke arah utara Cartagenan, untuk memastikan lokasinya kami bertanya kepada dua orang Afro-Colombian yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan. Kami pun bertanya apakah ada mezquita (mosque/masjid/mushala) di sekitar sini dan mereka mengangguk. Mereka menyebutnya sebagai un temple musulman (muslim’s temple atau kuil Muslim) dan menunjukkan kepada kami jalan menuju ke sana yang sepertinya berada di daerah pesisir.




Kami menyusuri jalanan sepanjang pantai dengan Laut Karibia ada di sebelah kiri. Tidak ada hal mewah yang kami jumpai. Hanya ada pondokan-pondokan yang semi runtuh, kedai-kedai makan beratap jerami, plastik sampah, anjing dan kucing liar, serta para pria bertelanjang dada yang sedang bermain bola. Setelah bertanya lagi kepada warga setempat, seorang anak kecil akhirnya membantu kami menemukan lokasi. Ia pun membawa kami ke sebuah bangunan batu bata tanpa kubah dengan sepasang pohon palm di depannya. Akhirnya kami pun sampai, Mezquita Abu Bakar!

Pintu masjid terbuka dan tidak lama kemudian seseorang menyapa kami dari jauh dengan ucapan salam, “Assalamu’alaikum.” Kami mendapati pria berkulit cokelat, mengenakan celana baggy, dan kalung berbandul bulan sabit. Ia pun mengenalkan dirinya dengan nama Islam ‘Ibrahim’. Ia sendiri lahir dengan nama Abercio Mercado.

Sebelum berbincang dengan Ibrahim, kami melihat ke bagian dalam mushala. Sebuah bangunan flat sederhana Cheap MLB Jerseys dan tidak ada ciri arsitektur Islam sama sekali. Di di dalamnya terdapat beberapa cheap football jerseys karpet yang tergulung dan mungkin sedang akan dicuci dan memiliki lantai ubin berwarna putih. Beberapa jendela berfungsi dengan baik dengan membiarkan cahaya dari luar menerangi ruangan. Ibrahim bercerita bahwa mushala ini dibangun di atas tanahnya pada tahun 2003 dan selesai pada tahun 2005 dibantu oleh seorang profesor psikologi Muslim dari Spanyol bernama Miguel yang telah tinggal di Cartagena selama beberapa tahun.

Ibrahim lalu bercerita bahwa ia masuk Islam. Tiga puluh tahun yang lalu pria berusia 55 tahun tersebut adalah anggota Partai Komunis dan mengikuti filosofi yang dianut oleh Uni Soviet. Namun, pada tahun 1979, ia mendapat inspirasi dan tertarik untuk belajar Al Qur’an. Ia menemukan bahwa Islam juga mengajarkan sosialisme. Akhirnya ia memutuskan Köfte untuk masuk Islam dengan dibantu oleh ulama bernama Mustafah di Barranquilla. Ibrahim pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia juga mengatakan dengan hati-hati bahwa ia adalah seorang Muslim Sunni.

(Foto: Joaquin Sarmiento/FNPI)

(Foto: Joaquin Sarmiento/FNPI)

Kami bertanya apakah ia merasa terisolasi setelah menjadi seorang Muslim. Ibrahim menjawab, “Sama sekali tidak. Ini adalah sebuah proses. Orang-orang menghormati apa yang saya lakukan dan mereka menghormati agama kami. Tujuan saya wholesale football jerseys adalah menjadi pemimpin sosial dan membantu anak-anak kurang mampu.”

Kami takjub dengan apa cheap oakleys sunglasses yang ia lakukan di masjid ini, yaitu menyediakan makanan untuk 85 anak kurang mampu sekali setiap harinya. 50 di antaranya tinggal di sekitar masjid, sementara 35 lainnya tinggal jauh dari masjid. Kami pun bertanya bagaimana dengan para muslimah di sini, apakah mereka mengenakan jilbab. Ibrahim lalu menjawab, “Tentu saja. Saya punya seorang anak perempuan. Dia dan istri saya menutup kepala mereka dengan jilbab yang baik dan layak.”

Perhatian terbesar umat Muslim yang tinggal di negara mayoritas non-Muslim adalah bagaimana memperoleh makanan halal. “Di sini kami sulit menemukan daging yang halal, sehingga yang paling sering kami konsumsi adalah gandum, kacang-kacangan, serta ikan air tawar dan ikan laut yang kami tangkap sendiri.”

Ada 35 Muslim yang tinggal di Cartagena. Biasanya 8-10 orang datang ke masjid untuk shalat berjamaah. Ibrahim mengatakan bahwa kadang-kadang ada turis Muslim dari Malaysia, Indonesia, atau Pakistan yang mampir ke sini. Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan operasional masjid bergantung pada donasi, baik dari institusi maupun individu yang tertarik untuk mempromosikan Islam. Ibrahim ingin mensyiarkan kedamaian dalam Islam dengan memperbanyak kegiatan sosial untuk anak-anak kurang mampu. Ia juga punya mimpi untuk bisa membangun sekolah gratis bagi mereka.

(Foto: Joaquin Sarmiento/FNPI)

(Foto: Joaquin Sarmiento/FNPI)

 

sumber: International Policy Digest

Leave a Reply