Dengan uraian yang lalu, sudah jelas bahwa Islam mementingkan ruh tajdid, atau semangat pembaruan. Sudah terang pula menjadi pegangan ulama-ulama Islam fake oakleys dari zaman ke zaman bahwa tajdid itu ialah suatu kemestian. Kalau tidak ada tajdid, pokok agama akan membeku . Yang bid’ah akan mengalahkan yang sunnah.

Setiap kurun berganti dan abad berputar, pola pikir beragama mesti diperbarui, guna menjunjung dan membela pokok aqidah itu sendiri yang diterima dari Allah dan dilaksanakan oleh Rasul cheap jerseys dalam masyarakat Muslim.

Jika diartikan secara harfiah saja, tajdid boleh diartikan modernisasi atau pembaruan. Namun, orang yang sadar pada ajaran Islam, tidak lekas mengartikan dengan modernisasi. Sebab, terbukti banyak golongan yang hendak memodernisasikan Islam dengan mempreteli Islam itu sendiri atau meninggalkan pokok-pokok ajarannya. Malah, sudah lama menjadi propaganda yang santer, sejak zaman penjajahan, anjuran kepada umat Islam yang teguh menjalankan agamanya, jika mereka hendak maju (moderen), hendaklah Islam itu ditinggalkan. Поребрик Jika hendak maju dan disebut orang moderen, jangan menunjukkan bahwa kami orang Islam. Kalau masih saja menonjolkan diri sebagai Muslim, itu adalah fanatik. Sementara, fanatik tidak laku di zaman moderen ini.




Dengan semangat iman dan Islam, berkali-kali bangsa Indonesia telah teguh melawan penjajahan sehingga pahlawan perintis kemerdekaan nasional di Indonesia berani melawan Belanda adalah karena digerakkan oakley womens sunglasses oleh iman dan Islam. Kita dapat membuktikan pada sejarah Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teungku Cik di Tiro, dan lain-lain. Demikian juga orang besar seperti Teuku Umar Djohan Pahlawan dan Panglima moderen ini.

Setelah penjajahan berkuku, dimulailah merebut cara berpikir yang datang dari Islam itu, dan menukarnya dengan berpikir cara Barat, yang berbatas sempit, yaitu cara Belanda. Yang utama sekali Ray Ban sale dalam pendidikan penjajahan ialah sikap jiwa yang netral terhadap agama. Dari bekas didikan ini, anak-anak orang Islam yang masuk ke sana, betapa pun taat Cheap Jerseys orang tuanya, dan betapa pun suasana dan iklim agama dalam kampung halamannya, bila sekali telah meminum pendidikan Barat, terasalah enaknya dan tidaklah mereka mau melepaskannya lagi, sampai mereka keluar dari pendidikan itu, nama netral itu positif menjadi tidak peduli lagi kepada agama.

Kecemburuan beragama tak ada lagi, malahan sebaliknya, mereka mulai menonjolkan diri bahwa agama itu tidak perlu. Benci, antipati kepada segala yang ada sangkut pautnya dengan Islam!

Sejak zaman penjajahan itulah tertanam perasaan bahwasanya orang yang teguh beragama adalah orang yang fanatik. Orang teguh beragama adalah orang yang tidak terpelajar. Kiai-kiai dengan pondok-pondoknya menjadi bahan cemoohan. Santri dengan kesederhanaannya, bahkan pakaian haji, serban haji, kain sarung (sarungan), langgar pondok, masjid, semuanya adalah sasaran yang empuk untuk dicemooh. Haji-haji beristri lebih dari satu adalah orang yang hina.

bersambung…

(Salah satu tulisan Buya Hamka pada rubrik Dari Hati Ke Hati  majalah Panji Masyarakat 1967-1981)