Berhati-hatilah Dalam Beperkara dan Memutuskan Perkara




“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik (pendosa) membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa cheap nfl jerseys mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Al-Hujuraat[49] : 6)

Ada sesuatu yang menarik dalam etika memutuskan perkara, yaitu ucapan mereka yang mengatakan, “Jika ada orang yang datang kepadamu hendak mengadukan sesuatu dalam keadaan sebelah mata tercungkil, maka janganlah engkau tergesa-gesa memutuskan hukum untuknya sehingga orang yang diadukan itu datang juga. Karena boleh jadi ia datang dalam keadaan kedua matanya tercungkil.”

Sungguh sangat tepat perkataan tersebut. Sebeb, kebanyakan kekeliruan orang dalam memutuskan perkara ialah karena tergesa-gesa menerima pengaduan-pengaduan yang mempersona dan argumentasi yang mengesankan. Oleh karena itu Rasulullah saw memberi peringatan kepada kita mengenai hal ini :




Wahai manusia! Sesungguhnya kamu beperkara kepadaku, sedangkan aku hanya manusia biasa. NFL Jerseys China Mungkin sebagian kamu lebih pandai dalam mengemukakan argumentasi daripada sebagian yang lain (sehingga cheap jordans online aku putuskan sesuatu untuknya sesuai dengan argumentasi yang dikemukakannya). Maka barangsiapa yang aku putuskan untuknya hak saudaranya meskipun hanya sejengkal tanah (umpamanya) maka keuntungan yang diperolehnya itu adalah sepotong dari api neraka. Karena itu terserahlah kepadanya, apakah ia ambil atau ia tinggalkan.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Zainab bin Abi Salamah dari Ummu Salamah)

Nabi Daud as mempunyai hari-hari tertentu untuk beribadah kepada Allah swt. Pada suatu hari ketika beliau sedang berkonsentrasi melakukan ibadah kepada Allah, tiba-tiba datanglah dua orang laki-laki yang beperkara kepada beliau dengan memanjat dinding sehingga beliau terkejut.

Kemudian beliau menanyakan keperluan kedua lelaki tersebut. Maka majulah si penggugat sambil berkata, Reflektioner “Saya mempunyai seekor kambing dan saudara ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor. Tetapi karena rakusnya ia meminta kambingku yang seekor itu agar kambing yang ia miliki genap menjadi seratus ekor. Ia terus mendesakku, bahkan dengan kata-kata yang pedas dan menyakitkan hati, kemudian memaksaku dengan kekuatan.”

Nabi Daud terkesan mendengar alasan dan penjelasan yang dikemukakan oleh orang yang satunya, padahal dia kaya. Lalu dengan tergesa-gesa Nabi Daud memutuskan perkara sebelum mendengar penjelasan dari lelaki yang satunya lagi (pihak yang di tuduh). Nabi Daud berkata, “Sesungguhnya dia telah menganiayamu dengan meminta kambingmu yang hanya seekor itu untuk ditambahkan kepada kambingnya.”

Tetapi akhirnya Nabi Daud menyadari bahwa beliau telah lalai, bahwa cara beliau memutuskan hukum itu tidak sesuai dengan ray ban outlet etika kehakiman. Nabi Daud sadar bahwa apa yang baru cheap nfl jerseys saja ia lakukan dan alami itu adalah suatu cobaan belaka yang telah mengalahkan akal dan kebijakan beliau. Sehingga dengan serta merta beliau memohon ampun kepada Allah swt dengan tunduk merendahkan diri dan bertaubat..

bersambung…

 

Oleh : Syaikh Hasan Al-Banna

Leave a Reply