Setelah terjadi perjuangan kemerdekaan, jelas sekali bahwa orang yang dituduh fanatik beragama itulah yang sangat meluap-luap semangatnya menentang penjajahan. Merekalah yang lebih banyak berani menantang meriam dan sangkur terhunus, dengan bambu runcing. Merekalah yang ridha mengejar mati syahid.

Namun, setelah Indonesia menang dan merdeka, kian lama mereka itu Ray Ban Sunglasses tidak diperlukan lagi. Sedikit demi discount oakley sedikit kuku mereka dikerat dan kekuatan mereka dihilangkan. Maka timbullah gagasan, agama jangan dicampur-campur dengan politik. Orang Islam mesti turut modernisasi. Modernisasi pemisahan antara agama dengan negara, atau apa yang disebut sekuler. Modernisasi ialah, isolasi agama di masjid.

Islam masih akan disokong dan biarlah ia hidup, tetapi hanya untuk membaca-baca tahlil, membaca doa-doa di hari besar resmi. Kemudian, akan terpujilah Islam itu kalau kiai-kiainya sanggup menyediakan fatwan-fatwa bagi penyokong politik penguasa. Mencari-cari ayat atau hadits yang ‘cocok’. Pendeknya pandai menyesuaikan diri. Di samping itu, santerlah ucapan-ucapan mengejek tentang segala yang berbau Islam, misalnya:




  1. Islam hanya cocok dengan masyarakat unta dan minyak samin,
  2. Al Qur’an itu bagi kita adalah bahasa asing,
  3. hapuskan segala pusaka nenek moyang yang masih berbau Arab,
  4. huruf Arab (huruf melayu-huruf jawi) adalah huruf kolot. Sebab itu, harus ditukar segera dengan huruf latin.

Modernisasi semacam ini mendapat pujian dan dibesar-besarkan dalam dunia Barat. Ketika Kemal Attaturk di Turki mempreteli Islam, cheap oakleys mencampuri urusan agama dengan perintah menerjemahkan adzan ke dalam bahasa Turki demi modernisasi, ributlah pers Cheap Jordan Shoes Barat memujinya setinggi langit. Ketika Kemal Attaturk mencoret dari undang-undang dasar “agama Islam adalah agama resmi bangsa Turki”, dijunjunglah ia sebagai seorang pemimpin besar yang berjasa, melepaskan Turki dari kungkungan agama yang kolot.

Demikian juga beberapa tahun yang telah lalu ini, ketika Weihnachten Presiden Tunisia, Habib Burquiba, pernah menyatakan pendapat bahwa buruh-buruh dan pegawai negeri tidak perlu berpuasa supaya produksi dan pekerjaan tidak mundur maka seluruh pers Barat memuja-muja presiden yang telah “sangat maju’ ini, yang patut ditiru oleh negeri-negeri Islam yang lain, yang masih tenggelam dalam “kekolotan” sebab masih saja puasa, masih saja shalat. Dalam negeri Islam sendiri, termasuk Indonesia, pun banyak orang yang mengakui dirinya Islam juga memuji Kemal, memuji Habib Burquiba karena mencoret Islam atau karena memandang puasa itu tidak perlu.

Inilah tanda moderen!

Modernisasi semacam Attaturk itulah yang selalu dibanggakan dan dianjurkan oleh mendingan Soekarno dalam surat-suratnya dari ray ban outlet Ende kepada A. Hassan di Bandung, dicela dan dicemoohnya orang Arab yang matanya memakai celak dan memakai serban.

Ketika di Bengkulu seorang temannya dicela, yang Muhammadiyah, karena ketika bertandang ke rumah teman itu, istri temannya itu tidak turut keluar, melainkan “bersembunyi” di belakang. Ketika di Bengkulu tabir yang memisahkan di antara laki-laki dan perempuan dihantam, Majelis Tarjih Muhammadiyah memutuskan lebih baik pakai batas tabir guna menjaga fitnah.

bersambung…

(Salah satu tulisan Buya Hamka pada rubrik Dari Hati Ke Hati  majalah Panji Masyarakat 1967-1981)