Dikisahkan, Abdul Hamid Al-Kharizmi, seorang saudagar kaya di kampung halamannya. Ia telah lima tahun menikah, namun belum juga dikaruniai keturunan. Suatu hari setelah melaksanakkan shalat sunah, ia menghaturkan nadzar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Ya Allah, jika Engkau mengaruniai aku seorang anak, maka akan kusembelih seekor kambing yang memiliki oakley sunglasses outlet tanduk sebesar jengkal manusia.”

Suatu hari, sepulang berdagang, istrinya mengatakan kalau ia kini sedang mengandung. Bukan SİPAHİLER/Hilal-i main senangnya Abdul Hamid karena permintaannya dikabulkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan perasaan sukacita, ia setiap hari nfl jerseys cheap berdoa akan keselamatan istri dan bayinya. Hingga hari yang ditentukan, tibalah istrinya melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat. Ia pun teringat akan nadzar-nya untuk menyembelih seekor kambing yang memiliki tanduk sebesar jengkal manusia. Ia akan mengadakan akikah dengan dua ekor kambing yang telah
direncanakannya.

Ia pun meminta agar pembantunya mencarikan kambing sebagaimana yang diinginkannya. Namun hingga beberapa hari kemudian, tak satu pun pembantunya berhasil menemukan seekor kambing yang sesuai dengan
nadzarnya. Saudagar itu juga membuat pengumuman di pasar Baghdad kalau ia bersedia membeli dengan harga mahal jika cheap oakleys ada Cheap Oakleys yang membawakannya seekor kambing dengan tanduk sepanjang sejengkal manusia. Namun hingga sepekan, meski banyak orang yang membawakannya kambing, tak satu pun yang memiliki tanduk sepanjang jengkal manusia.




Mendengar kesulitan yang dialami saudagar itu, Abu Nawas pun mengundang saudagar itu datang ke rumahnya. Abu Nawas meminta agar saudagar itu membawa seekor kambing yang usianya wholesale nfl jerseys cukup dewasa bersama bayinya yang akan diakikah. Abu Nawas berjanji membantu saudagar itu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Ketika saudagar itu tiba bersama semua yang diminta Abu Nawas, tanpa banyak penjelasan, Abu Nawas langsung mengukur tanduk kambing yang dibawa saudagar tersebut dengan jengkal bayi saudagar itu.

Abu Nawas lalu berkata, “Sekarang tuan sudah bisa membayar nadzar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kuyakin kambing ini sudah cukup memenuhi janjimu. Anakmu ini adalah manusia yang pas mengukur tanduk yang seharusnya kau sembelih sebagai tanda syukurmu. Jangan mempersulit dirimu, Tuan.” Mendengar penjelasan Abu Nawas, pulanglah saudagar itu dengan gembira. Ia kini bisa memenuhi nadzarnya dan juga menyenangkan warga di lingkungannya. Tak lupa ia mengundang Abu Nawas untuk menghadiri perayaan aqiqah kelahiran putranya.

Nadzar adalah janji yang wajib untuk ditunaikan. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkannya dalam sebuah hadits. Sa’ad bin Ubadah bertanya kepada Rasulullah Saw, “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia sedangkan dia punya nadzar (yang belum ditunaikan).” Lalu, beliau bersabda, “Jika demikian, tunaikanlah nadzar-nya.” (HR Bukhari)

(Sumber: Cinta dalam Sepotong Ikan oleh Ahmad. K. Syamsuddin)