Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang membawa pahala shalat, zakat, puasa, dan haji tetapi ia juga datang (membawa cheap jordans online dosa) karena memaki-maki orang, memukul orang dan mengambil harta benda orang. Kebaikan orang itu diambil untuk diberikan kepada orang yang teraniaya. Tatkala kebaikan orang tersebut habis, sedangkan utang (penganiayaannya) belum terbayarkan semua, maka kejahatan-kejahatan orang yang ia aniaya akan diambil kemudian diberikan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah saw adalah manusia biasa. Meskipun maksum (terhindar dari dosa), beliau tetap memberi kesempatan kepada siapa saja yang Baratas Replicas Ray Ban merasa tersakiti untuk menuntut qishash kepadanya.

Menjelang wafat, Rasulullah saw meminta kerelaan hati kepada para sahabat yang pernah beliau sakiti agar membalas. Beliau menyampaikan kepada para sahabat, “Mungkin Allah tidak lama lagi akan memanggilku. Aku tak ingin di akhirat kelak ada di antara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku. Jika ada yang keberatan dengan perkataanku, katakanlah.”




Mendengar itu, tidak ada sahabat yang berbicara. Mana ada orang yang tega menuntut balas pada beliau yang sepanjang hidup berjuang untuk menyelamatkan umat beliau?

Siapa sangka, seorang sahabat yang bernama Ray Ban Sunglasses Ukkasyah bin Minshan memberanikan diri. Dia menyampaikan kisahnya pada saat Perang Badar. “Ketika itu untaku mendekati unta Unta, kemudian Tuan mengangkat cambuk sehingga punggungku terkena. Aku tidak tahu apakah Tuan sengaja memukulku atau tidak.”

Para sahabat yang lain terkejut. Mereka berpikir, “Kok masih ada orang seperti itu, padahal Rasulullah saw sudah berada di ambang kewafatannya?”

Beberapa sahabat sempat emosi mendengarnya. Namun, apa yang dilakukan Rasulullah saw? Marahkah?

Tidak, beliau bahkan mempersilahkan Ukkasyah bin Mihshan untuk meng-qishash-nya sebagaimana yang pernah ia alami dulu. Beliau menyuruh Bilal mengambil cambuk dirumah Fatimah. Setelah itu, beliau menyerahkan cambuk itu kepada Ukasyah dan berkata, “Lakukanlah.”

Namun, Ukasyah masih memiliki permintaan lain. “Wahai Rasulullah, dulu Cheap Ray Bans cambuk Tuan mengenai punggungku yang terbuka.”

Rasulullah saw paham, perlahan beliau menyingkap baju sehingga tampaklah punggung beliau yang putih. Mengetahui aksi itu, sejumlah sahabat sempat berusaha untuk menghalangi. Ada pula yang menawarkan diri agar menuntut balas bukan kepada Rasulullah saw. Namun, Rasulullah saw tetap mempersilahkan Ukasyah untuk meng-qishash-nya.

Detik-detik berikutnya menjadi hal yang sangat mengharukan. Apa yang terjadi?

Tiba-tiba Ukasyah mendekati dan langsung memeluk tubuh cheap football jerseys Rasulullah saw sepuas hati, “Siapa yang sampai hati melakukan qishash kepadamu, ya Rasulullah?” ujar Ukasyah seraya menangis. “Sungguh, tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu.”

Suasana menjadi semakin mengharukan. Para sahabat yang lain terisak menyaksikan peristiwa tersebut. Rasululah saw pun mendoakan sahabat beliau itu dengan kebaikan.

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber : buku ‘Betapa Rasulullah Merindukanmu’ karya Abdillah F. Hasan)