Hukum,  kata pakar sosiologi hukum Satjipto Rahardjo, diciptakan untuk hal-hal yang lebih besar di luar dirinya. cheap jordans online Hukum menurut Satjipto adalah untuk manusia dan kemanusiaan, bukan malah sebaliknya, manusia dan kemanusiaan yang untuk hukum.

Bagi seorang ahli hukum, hukum tidak termasuk ke dalam hakikat yang berdiri sendiri, tetapi ke dalam hakikat yang hanya ada dalam suatu hakikat cheap oakleys sunglasses yang lain (buku ‘Pengantar Filsafat Hukum’)

Lalu apa hubungannya dengan isi khotbah pada artikel sebelumnya? Hukum posesif yang harus diutamakan adalah substansinya, bukan bunyi literernya. Selama ini ada kesalahan mendasar. Menurut Mahfud MD, kesalahan itu terletak pada aspek skala prioritas hukum.




Penegakan hukum di Indonesia, kata Mahfud, lebih mengutamakan bunyi hukum secara literer dan formal, discount football jerseys tetapi melupakan substansi hukum itu sendiri. Apa substansi hukum (legel substance) itu, tidak lain adalah keadilan. Jadi, menegakkan hukum pada prinsipnya adalah menegakkan keadilan, bukan menegakkan bunyi hukum secara verbal.

Sementara, keadilan menurut Roscoe Pound dikonsepkan sebagai produk-produk konkret yang bisa diberikan kepada warga masyarakat. Masih menurut Pound, bahwa hasil yang diperoleh itu hendaknya berupa pemenuhan kebutuhan manusia semaksimal mungkin dengan meminimalisasikan negativitas yang mengundang korban. Cheap Jerseys Dengan kata lain, semakin banyak dan optimal pemenuhan kebutuhan manusia tersebut, maka akan semakin efektif dalam menghindari konflik di antara manusia.

Jadi, keadilan adalah standar yang dipakai dalam memberikan perlakuan terhadap objek atau aspek di luar diri kita. Objek yang di luar itu adalah manusia dan kemanusiaan. Oleh karena itu, ukuran keadilan tersebut tidak bisa dipisahkan Cheap Jordans Sale dari makna yang kita berikan kepada manusia, tentang konsep soal manusia kita. Bagaimana pandangan kita terhadap manusia, itulah yang melahirkan ukuran-ukuran yang kita pakai dalam memberikan perlakuan terhadap orang lain.

Apabila manusia kita pandang sebagai makhluk yang luhur dan mulia, maka perlakuan kita kepadanya pun akan mengikuti anggapan tersebut. Kenapa manusia begitu menghormati antar sesamanya?

Karena manusia dipandang sebagai makhluk yang terhormat, mempunyai akal dan perasaan, sehingga tidak bisa diperlakukan sebagaimana benda-benda lain. Begitu juga kenapa manusia sering kali begitu murah harganya, sehingga seseorang begitu mudahnya mengganyang dan memangsa sesama saudaranya sendiri?

Karena dalam pandangannya, manusia dipandang sebagai sesuatu yang rendah dan hina sebagaimana binatang atau batu. Jagi, anggapan kita atau pandangan kita terhadap akan menentukan ukuran yang akan kita pakai dalam menyikapi mereka.

Bertolak dari berbagai pandangan keadilan yang diuraikan di atas, maka Aristoteles dalam bukunya Rhetorica mengatakan bahwa tujuan dari hukum adalah bukunya menghendaki keadilan semata-mata. Kemudian, isi dari hukum ditentukan oleh kesadaran etis mengenai apa yang dikatakan ‘adil’ dan apa yang dikatakan ‘tidak adil’. Berdasarkan prinsip diatas, maka hukum sejatinya mempunyai tugas suci dan luhur yaitu keadilan.

Selesai….

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber: buku ‘Pidato Kumpulan Khalifah’ karya Dr. H. 2015 Abd. Halim, M.A)