Hukum Berdasarkan Fakta




Pada artikel sebelumnya telah kita bicarakan bersama tentang prinsip penegakan keadilan hukum, yaitu harus berdasarkan pada logika dan bukti-bukti empiris, sebab era turunnya waktu sudah berakhir dan umat manusia sudah dituntut untuk memutuskan hukum berdasarkan ijtihadnya sendiri.

Dalam melakukan ijtihad inilah dibutuhkan fakta-fakta empiris, bukan rekayasa belaka. Kebenaran harus ray ban sunglasses ditegakkan dengan cara menyediakan fondasi-fondasinya Wholesale NFL Jerseys yang kuat, rasional, empiris dan kuantitatif. Tanpa fakta maka hukum adalah ilusi, dan kebenaran adalah rekayasa belaka.

Seperti yang termaktub dalam hadits :




Diriwayatkan dari Abu Faras, ia berkata; Amir al-Mu’minin Umar bin Khattab ra berkhotbah: Wahai rakyatku, kita bisa saling mengenal dengan baik karena di tengah-tengah kita terdapat utusan Allah, ketika wahyu turun, dan berkat semua itulah kita bisa saling mengenal. Kini aku sampaikan kepada kalian, barang siapa yang menampakkan perbuatan baik maka kami akan menganggapkan baik, kami akan mencintainya karena telah berbuat baik. Barang siapa yang menunjukkan sikap buruk, maka kami akan menganggapnya telah berbuat buruk, dan akan membencinya lantaran berbuat buruk. Sementara hal-hal yang sifatnya rahasia adalah urusan kalian sendiri dengan Tuhan. Tetapi ingatlah, sekarang (pasca replica oakleys wafatnya Nabi-penj), mungkin saja ada seseorang yang membaca Al-Quran. Dia mengharap rida Allah dan pahala dari-Nya. Tetapi, mungkin juga, orang-orang yang membaca Al-Quran mengharap perhatian dan pamrih dari manusia. Karena itulah, ketika kalian membaca Al-Quran ataupun beramal saleh, maka berharaplah untuk mendapat rida Allah.”

Bagaimana kamu bisa membuktikan bahwa seseorang itu salah atau benar dalam sebuah persidangan? Tidak Ray Ban sale lain adalah dengan menggunakan bukti-bukti objektif. Fakta adalah satu-satunya bukti valid dalam pembuktian hukum. Penjatuhan vonis terhadap tersangka tidak boleh hanya bergantung pada khayalan, melainkan harus berdasarkan oakley sunglasses sale pada fakta-fakta konkret dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Fakta inilah yang disebut dengan fakta hukum. Fakta hukum lebih merupakan uraian mengenai hal-hal yang menyebabkan timbulnya sengketa. Misalnya, adakah perjanjian antara penggugat dan tergugat? Atau apakah si penggugat telah merampas hak-hak tergugat atau melakukan tindakan melawan hukum yang berakibat menimbulkan kerugian terhadap pihak tergugat?

Dalam posisinya, juga harus dikualifikasikan perbuatan optimismo dari masing-masing tergugat. Kualifikasi merupakan sebuah formulasi tentang perbuatan materiil maupun perbuatan formal atau materiil dari penggugat yang berupa perbuatan melawan hukum.

Saat kualifikasi itu dilakukan, harus diuraikan pula bagaimana perbuatan itu dikerjakan oleh masing-masing pihak tergugat. Misalnya, melanggar hak privasi orang lain, melanggar undang-undang, bertindak sesuai kehendaknya yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. Sebagaimana dalam sebuah pengadilan atau persidangan, apabila ada pembacaan putusan (terutama putusan pengadilan tingkat pertama) maka dalam salah satu dari putusan tersebut akan terdapat fakta hukum (ada yang sebagian menggunakan istilah fakta-fakta).

 

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber: buku ‘Pidato Para Khilafah’ karya Dr. H. Abd. Halim, M.A)

Leave a Reply