Jangan Pernah Putus Asa (Bag 1)




Sejarah kesalahan manusia sangat panjang. Sepanjang rentang antara kelahiran dan kematian manusia itu sendiri, bahkan lebih panjang lagi. Kesalahan telah ada sejak kali pertama Nabi Adam belum berturun putra. Ketika ia tergoda rayuan syaitan untuk memakan buah, yang oleh syaitan dijanjikan akan membuatnya abadi.

Ini bukan gugatan untuk bapak kita, Nabi mulia dan manusia pertama yang diciptakan Allah langsung dengan tangan-Nya. Siapapun tidak punya kapasitas, bahkan argumen, untuk mempersalahkan Adam, bapak semua manusia. Apalagi Allah sendiri memang telah mengampuni kesalahan itu.

Banyak hal terjadi di dunia ini dan harus kita maknai sebagai wujud otoritas Allah Yang Maha Berkuasa dan Maha Berkehendak, dalam lingkup keadilan-Nya yang oakley sunglasses for men sempurna. Karenanya, yang mungkin dilakukan adalah mendudukkan keberadaan dosa dan kesalahan dalam timbangan syari’at dan dalam alur logika kemanusiaan yang semestinya. Untuk kemudian, setiap muslim, apapun statusnya, kaya atau miskin, pintar atau tidak, berpangkat atau rakyat biasa, menyadari sepenuhnya bahwa ia tidak bisa lari dari kodrat kemanusiaan itu.




Dari kesadaran itu diharapkan lahir pemahaman yang utuh, sikap yang tepat, serta tindakan yang benar. Bahwa tidak mungkin manusia melambung menjadi makhluk suci tanpa cela. Tetapi membiarkan diri terjerembab dalam perilaku buruk dan nista juga tidak dibenarkan. Hidup memang pertarungan. Selalu ada saat kalah dan saat menang. Bagai roda siang dan malam, berputar beriringan. Tetapi manusia harus berjuang untuk kemenangan hidup, meski kadang harus tegar atas kekalahan.

Rasulullah sang manusia pilihan juga pernah salah. Ketika beliau Cheap Jordans mengabaikan Abdullah bin Ummi Maktum dan lebih memperhatikan pembesar-pembesar Quraisy. Allah langsung menegurnya. Di kemudian hari teguran itu dikumpulkan dalam satu Surat yang dinamai dengan sikap Rasulullah kepada своими Abdullah bin Ummi Maktum, ‘Abasa’, atau ‘Yang bermuka murung’. Teguran itu, di sisi lain, menjelaskan bahwa Rasulullah tidak akan salah dalam menunaikan tugas cheap nfl jerseys kenabiannya. Karena seketika akan langsung diluruskan oleh Allah.

Namun, dalam kapasitas manusia, ia pernah salah memberi pandangan dalam prosedur pembuahan (talqih) buah kurma. Sampai beliau sendiri menyatakan, “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.” Karenanya, seringkali beliau menggabungkan dua label pada dirinya, “Aku ini hamba dan Rasul-Nya.” Lafadz ‘hamba’ menegaskan bahwa ia juga seperti manusia yang lain. Tetapi ia berbeda karena ia menjadi Rasul.

Kita tidak sedang membandingkan diri kita dengan Rasulullah. Fake Oakleys Tidak saja perbandingan itu salah alamat, tapi karena memang antara kita dan Rasulullah tidak mungkin diperbandingkan. Semua hanya penegasan ulang bahwa manusia tidak mungkin lari dari kesalahan. Manusia diciptakan juga dengan potensi baik dan buruk. “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan.” (QS. Asy Syams: 8).

<p jordans for sale style=”text-align: right”>bersambung…

(Sumber: Majalah Tarbawi)

Leave a Reply