Hakim dan Pemimpin Harus Menjaga Kehormatan dan Nama Baik Umat




Kehidupan masyarakat Islam yang ideal adalah tatanan yang mapan, damai, rukun, harmonis, dan sentosa. Tetapi, sekelompok orang menginginkan terjadi kekacauan, menodai kehormatan, dan nama baik umat Islam menjadi ternodai.

Pemimpin suatu negara bertanggung jawab menjaga kehormatan dan nama baik umat (rakyat). Tidak boleh ada upaya-upaya kotor untuk menodai kehormatan orang lain. Negara bertanggung jawab untuk menjaga keamanan tatanan kehidupan sosial. Inilah ajaran Islam. Cheap Ray Bans Seperti sabda Rasulullah saw (yang artinya) :

Salah satu strategi politik Utsman bin Affan adalah menjaga kepentingan umum dan tidak toleran terhadap orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Diriwayatkan dari Abu Raja’ bahwa; Umar bin Khattab !_tmp-wrk dan Utsman bin Affan menghukum orang-orang yang menyerang dan berbuat keonaran. Pada zaman kepemimpinan Umar dan Utsman, syair adalah salah satu media massa yang paling berpengaruh. Umar dan Utsman menghukum para penyair jordans for cheap yang mencela dan berbuat dusta kepada umat Islam dengan cara yang tidak benar. Kami pun mengawasi uamt dari pengaruh-pengaruh negatif para penyair.” (HR. Ibnu Syubbahdan Ibu Abi Syubbah)




Onar dalam kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti huru-hara, dan gempar. Membuat onar berarti membuat kegemparan, membuat huru-hara atau kekacauan. Keonaran berarti kegemparan, kerusuhan dan keributan. Onar juga berarti akal busuk, dan tipu muslihat.

Salah satu hal yang penuh dengan keonaran adalah dunia politik dan hukum. Ada lagi dunia selebritis dan entertainment. Politik sering kali menampilkan hal-hal yang bertentangan dengan akal sehat. Salah satunya adalah keonaran. Kenapa? Karena politik adalah dunia yang penuh muslihat, penuh tipu daya, penuh isu-isu seksi.

Karena itu, meski banyak ilmuwan politik memberikan kritik keras, dunia politik tak ubahnya dunia sandiwara. Bagaimana sebuah persidangan digelar sementara keputusannya sudah didesain sedemikian rupa di balik pintu. Sehingga persidangan perkara hanyalah sebatas “permainan sinetron”, sekadar untuk mengelabui publik.

Apalagi sekarang ini, para selebritis berbondong-bondong menyerbu panggung politik. Para bintang sinetron, bintang iklan, pelawak, komedian, penyanyi dan artis dangdut sekarang ini banyak sekali bertebaran menjadi anggota DPR atau kepala daerah.

Sebenarnya, demokrasi membuka pintu seluas-luasnya cheap jerseys wholesale bagi setiap warga negara untuk memilih dan dipilih menjadi pemimpin di berbagai sektor publik. Karena secara yuiridis sah-sah saja, bila tukang iklan jamu mencalonkan diri sebagai presiden atau DPR.

Akan tetapi, yang kemudian menjadi persoalan adalah ketika dunia politik disesaki oleh fenomena-fenomena kegaduhan, dipenuhi oleh hal-hal ray ban outlet yang hanya mengumbar kegemparan tapi miskin makna, politik hanya diwarnai oleh sensasi tanpa substansi.

Ruang politik yang dipenuhi oleh isu-isu seksi dan popular tetapi sama sekali tidak ada manfaatnya yang riil di nfl jerseys cheap tengah masyarakat. Hal-hal semacam ini bisa muncul akibat dari para politisinya.

bersambung…

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber: buku ‘Pidato Para Khilafah’ karya Dr. H. Abd. Halim, M.A)

 

Leave a Reply