Jika kita berjalan kaki di dekat Omonia Square di pusat kota Athena, kita akan menjumpai sekelompok pria yang mengenakan pakaian khas mereka berbincang satu sama lain seperti tengah menunggu sesuatu. Lalu jika kita mengikuti pintu besi besar dan naik tiga tangga, maka kita akan menemukan sebuah ruangan yang luasnya sekitar 100 meter persegi dengan lantai karpet berwarna merah. Dinding yang dicat putih dan hijau. Serta sebuah rak sepatu kayu tepat di luar pintu masuknya.

Ya, tempat ini adalah sebuah masjid temporer (sementara) di antara ratusan masjid temporer lainnya yang ada di ibukota Yunani tersebut. Athena merupakan satu-satunya kota di Eropa yang belum memiliki masjid resmi sejak 200 tahun yang lalu, tepatnya ketika Dinasti Turki Usmani berakhir. Entah itu di garasi bawah tanah, basement, atau apartemen sewaan, sebanyak 200.000 Muslim di Athena berupaya menemukan tempat yang tenang untuk beribadah.

(Foto: MEE/Demetrios Ioannou)




(Foto: MEE/Demetrios Ioannou)

Pembangunan masjid resmi oleh pemerintah

Namun situasi ini hampir berubah. Pada Cheap Ray Ban Sunglasses bulan Agustus lalu pemerintah Yunani memutuskan akan membangun sebuah masjid resmi bagi Muslim di sana. Masjid ini akan dibangun di bekas basis militer di Votanikos, di pusat kota Athena. Proyek ini dikabarkan akan dimulai pada November sekarang dan selesai pada April 2017 mendatang.

Sekretaris umum pemerintah dari urusan keagamaan, Giorgos Kalantzis, mengatakan bahwa masjid ini memiliki kapasitas 350 orang dan akan di bawah supervisi Menteri Pendidikan dan Urusan Agama. Menurutnya keberadaan masjid temporer membuat malu negara dan Muslim Yunani, karena itu masjid resmi haruslah dibangun. Keberadaan masjid ini pun untuk memastikan keselamatan Muslim Yunani dan kejelasan tentang siapa yang mengelolanya.

Pembangunan masjid resmi pun menuai kritik. Salah satunya dari partai politik Golden Dawn. Menurut mereka keberadaan masjid resmi dapat menjadi ‘sarang extrimis dan teroris’.

Di sisi lain, Muslim Athena yang sebagian besar adalah imigran dari Timur Tengah такое dan Afrika akan tetap menggunakan masjid temporer sebagai tempat ibadah, yang dikelola oleh pihak fake ray bans dengan berbagai latar belakang, yang seringnya dari Bangladesh atau Mesir.

<img class="size-full wp-image-2207" src="http://zonamasjid.com/wp-content/uploads/2016/11/SecretMosquesOfAthens_42.jpg" alt="(Foto: MEE/Demetrios Ioannou)" width="620" height="414" wholesale jerseys srcset=”http://zonamasjid.com/wp-content/uploads/2016/11/SecretMosquesOfAthens_42.jpg 620w, http://zonamasjid.com/wp-content/uploads/2016/11/SecretMosquesOfAthens_42-300×200.jpg 300w” sizes=”(max-width: 620px) 100vw, 620px” />

(Foto: MEE/Demetrios Cheap Jordans Ioannou)

Penutupan masjid temporer

Beberapa tahun yang lalu, tiga masjid temporer di Attica dan satu di Thiva, dekat Athena, memperoleh lisensi resmi dari pemerintah sebagai tempat ibadah. Yang artinya tempat ini harus memenuhi standar dan peraturan yang ada, seperti aspek urban planning, street planning dan public health. 

Pembangunan masjid resmi oleh pemerintah di Votanikos sebenarnya menuai kegelisahan sendiri bagi para Muslim di sana. Karena setelah masjid itu dibangun, pemerintah akan menutup masjid-masjid temporer yang selama ini ada. Ahmed, seorang imigran dari Mesir yang telah menetap di Yunani selama sepuluh tahun, mengatakan bahwa ia dan beberapa Muslim lainnya tidak yakin pembangunan tersebut akan mempermudah saudara-saudara Muslimnya. Ia mengatakan bahwa hal ini justru akan menyulitkan umat Muslim, mengingat tidak semua dari mereka mudah untuk menjangkau cheap ray bans Votanikos. Misalnya mereka yang harus segera pulang selepas waktu shalat.

Pada krisis tahun 2009, masjid temporer sendiri telah banyak ditutup (sekitar 40% dari jumlah yang ada), karena sebanyak 60% imigran meninggalkan Yunani untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Moawia, seorang imigran dari Sudah yang juga merupakan presiden Greek Forum of Migrants dan telah menetap di Yunani sejak 1970-an, mengatakan bahwa pembangunan masjid resmi mengandung tujuan politik dan benar-benar bukan solusi tepat untuk para Muslim di sana.

Yunani dikenal dengan keramah-tamahannya. Namun, hidup sebagai Muslim di sana memang harus terbiasa dengan isu Islamophobia yang masih kerap muncul. Masih banyak warga di sana yang insecure dengan Islam. Di sisi lain, mungkin ini pula yang menguatkan umat Islam sendiri. Mereka tetap bersemangat memperjuangkan agama yang mereka yakini. Misalnya Sayd, seorang imigran dari Mesir, yang menghabiskan 20.000 Euro uang pribadinya untuk menyewa sebuah basement dan menyulapnya menjadi masjid yang nyaman di daerahnya, Agios Nikolaos.

Semoga Allah Swt senantiasa memberkahi dan melindungi saudara-saudara Muslim kita di sana.

(Foto: MEE/Demetrios Ioannou)

(Foto: MEE/Demetrios Ioannou)

(Sumber: www.middleeasteye.net)