Kebebasan kemauan (iradat). Disebut dalam bahasa Indonesia lama, yakni karsa. Kebebasan menyatakan pikiran. Disebut dalam bahasa Indonesia, yakni karsa.

Kebebasan menyatakan pikiran. Disebut dalam bahasa Indonesia, yakni periksa.

Kebebasan jiwa dari keraguan, dan hanya satu tujuan. Disebut dalam bahasa Indonesia, yakni rasa.




Apabila seorang mempunyai kebebasan iradat, kemauan atau karsa, niscaya ia berani menjadi penyuruh dan pelaksana dari perbuatan yang makruf. Kebebasan itulah pokok pertama bagi seorang pemimpin yang mempunyai cita hendak membawa kaumnya pada keadaan yang lebih baik.

Cita-cita itulah yang mendorongnya untuk mencapai yang lebih cheap China Jerseys sempurna dan lebih bahagia sehingga masyarakat tidak menjadi membeku (statis), bahkan berputar terus, bergerak terus, mempunyai dinamika untuk mencapai yang lebih sempurna sebab cita menimbulkan cipta.

Islam dengan perantaan Nabi Muhammad saw memberi peringatan bahwa setiap muslim itu adalah pemimpin, Nabi saw bersabda dari riwayat Ibnu Umar,

Setiap kamu adalah pengembala dan bertanggung jawab ataas pengembalaannya.”

Semua orang memikul tanggung jawab, ayah terhadap anaknya, suami cheap nba jerseys terhadap istri, bahkan istri pun terhadap suami, guru terhadap murid, imam terhadap makmum, penguasa negara terhadap rakyat, dan puncaknya ialah Nabi saw terhadap umat.

Pimpinan yang baik ialah pada kemauan yang baik. Inilah yang Cheap nfl Jerseys membentuk pendapat umum, yang dalam istilah ahli politik disebut pendapat umum yang sehat.

Itulah yang makruf, arti makruf ialah yang dikenal. Bertali dengan makrifat.

Kemudian, datanglah kebebasan yang kedua. Kebebasan berpikir dan kebebasan menyatakan pikiran. Kebebasan berpikir dan kebebasan menyatakan pikiran menimbulkan keberanian menentang yang mungkar, yang salah. Mungkar artinya yang ditolak, yang tidak diterima oleh don’t perikemanusiaan yang sehat.

Bebas dan berani mengatakan, “Itu salah, inilah yang benar!”, “Itu buruk! Inilah yang baik!”, “Dan, untuk itu saya berani menanggung segala risiko!”

Namun, kebebasan seseorang yang berani menjadi pandu dan pemimpin kaumnya menuju makruf, dan bebas serta berani menentang yang mungkar adalah bersumber dari bebassnya jiwa cheap jerseys wholesale itu sendiri. Jiwa yang telah terlepas dari segala macam rantai dan belenggu.

Rantai dan belenggu yang mengikat jiwa ialah benda, dan benda itu pecah berderai sebab dzarrah asalnya. Jiwa harus dibebaskan dari benda itu dan tujukan kepada Satu saja, yaitu Pencipta benda. Orang yang diikat oleh benda pasti menjadi musyrik sebab benda itu pecah!

Tujuan akal yang sehat bukanlah kepada pecah, tetapi kepada Esa. Kemudian percaya kepada Allah swt, itulah yang menghilangkan segala rasa takut, ragu, waham dan syakwasangka!

Percaya kepada satu Tuhan, itulah yang memberi sinar dari dalam jiwa sendiri, walaupun alam sekeliling gelap gulita. Percaya kepada Tuhan cheap football jerseys yang Satu adalah dinamo yang menghidupkan autoactivity dalam diri sehingga hidup itu datang dari dalam, bukan dipompakan dari luar.

bersambung…

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber: buku ‘Pandangan Hidup Muslim’ karya Prof. Dr. Hamka)