Jika sudut pandang yang tidak melihat di alam semesta kecuali hakikat Allah ini telah kokoh, maka ia akan melihat pada semua wujud lain yang berasal darinya. Ini merupakan tingkatan di mana hati melihat tangan Allah pada segala sesuatu yang dilihatnya. Setelah itu adalah tingkatan di mana hati tidak melihat sesuatu di alam ini kecuali Allah. Sebab di sana tidak ada hakikat yang dilihatnya, kecuali hakikat Allah.

Demikian juga akan diiringi oeh penafian pelaku sebab dan pengembalian segala sesuatu, setiap kejadian dan setiap gerak kepada sebab yang pertama (causa prima) yang darinya semuat itu bersumber dan terpengaruh. Hakikat inilah 1.23 yang memperoleh perhatian besar dari Al Qur’an, dalam menetapkannya pada sudut pandang keimanan. Oleh karenanya, Al Qur’an senantiasa mengesampingkan sebab-sebab lahiriyah dan menghubungkan segala sesuatu secara langsung dengan kehendak Allah.

“Dan (sebenarnya) bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah yang melempar.” (QS. Al Anfal: 17)




“Tiada pertolongan kecuali dari sisi Allah.” (QS. Ali Imran: 126)

“Dan kalian tidak dapat menghendaki (menempuh jalan ini) kecuali apabila dikehendaki Allah.” (QS. At Takwir: 29)

Juga masih banyak lagi ayat-ayat yang semakna dengan hal ini.

Dengan mengesampingkan segala sebab-sebab lahiriyah dan mengembalikan kejadian kepada kehendak Allah semata, maka tercurahlah kedamaian ke dalam hati, sehingga hati pun mengetahui pihak satu-satunya yang di sisi-Nya, ia memohon apa yang diinginkannya dan menjauhi apa yang ditakutinya. Kemudian ia merasa tenang dalam menghadapi berbagai kejadian, pengaruh, dan sebab-sebab lahiriyah, yang sebenarnya tidak memiliki hakikat cheap nfl jerseys dan yang hakiki tersebut.

Ini adalah berbagai tingkatan perjalanan yang dicoba oleh para sufi dan menyeret mereka sangat jauh. Hal tersebut karena Islam sesungguhnya menghendaki supaya manusia menempuh jalan menuju hakikat ini, seraya berjuang menghadapi kehidupan nyata dengan seluruh karakteristiknya, menjalani kehidupan ummat manusia, serta mengemban tugas kekhalifahan di muka dengan segala pilar-pilar penegaknya. Segala hal tersebut ia lakukan Cheap Oakleys Sunglasses sambil menyadari cheap nfl jerseys wholesale bahwa tidak ada hakikat kecuali Allah; tidak ada hakikat wujud kecuali wujud-Nya, dan tidak ada hakikat perbuatan kecuali perbuatan-Nya. Dia tidak menghendaki apapun, kecuali jalan ini.

Dari sini lahir manhaj yang sempurna bagi kehidupan, yang tegak menurut penafsiran tersebut dan apa yang ditumbuhkannya di dalam jiwa, yaitu berupa macam-macam sudut pandang, perasaan dan orientasi. Manhaj untuk beribadah kepada Allah semata, yang tidak ada hakikat wujud kecuali wujud-Nya, tidak ada hakikat perbuatan kecuali perbuatan-Nya, dan tidak ada pengaruh Cheap Oakleys bagi suatu kehendak kecuali kehendak-Nya.

Manhaj untuk mengarah kepada Allah semata dalam harap dan takur, dalam senang dan sedih, serta dalam bahagia dan cheap nfl jerseys duka. Apabila tidak, maka apa gunanya menghadap kepada sesuatu yang tidak mewiliki wujud hakiki, kepada bukan pelaku sejati di alam semesta ini?

bersambung…

(Sumber: Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Ustadz Sayyid Quthb)