Hakim dan Pemimpin Harus Menjaga Kehormatan dan Nama Baik Umat (Bag 2)




Para politisi sekarang umumnya hanya mementingkan popularitas, bukannya kualitas. Karena itu, mereka banyak melakukan hal-hal yang sifatnya sensasional untuk mendongkrak popularitas mereka.

Praktik politik yang hanya nfl jerseys shop berbasis pada popularitas semacam itu semakin menemukan momentumnya ketika bertaut dengan agenda pencitraan. Apapun risikonya, demi meningkatkan popularitas dan elektabilitas, seorang calon menggeber praktik-praktik pencitraan.

Mereka biasanya berlagak dekat dengan rakyat, suka blusukan ke pasar-pasar tradisional padahal jordan retro 1 sebenarnya ia lebih suka dan terbiasa belanja di mal-mal mewah, suka makan di kaki lima, padahal rutinitasnya adalah menghabiskan uang di restoran-restoran mahal bersama keluarga dan teman-teman dekatnya.




Akhirnya politik semakin jauh dari kebenaran, politik semakin berjarak dari kenyataan. Apa yang ditampilkan dalam ruang-ruang politik bukan lagi kenyataan dan kebenaran, melainkan citra-citra populer, kamuflase, fenomena gadungan dan fatamorgana politik, bukan makna melainkan tanda, bukan substansi melainkan simbol. Inilah sebuah tren di dunia politik, ketika cheap nfl jerseys ruang politik banyak di dominasi oleh gairah keonaran, sensasi, popularitas dan citra.

Masyarakat hanya Reasonable disuguhi citra-citra yang palsu, rakyat hanya di jejali oleh fantasi-fantasi yang direkayasa menjadi reabilitas. Kemakmuran hanya diukur oleh data-data statistik, kredibilitas dan integritas seorang tokoh hanya replica oakleys diukur dari survei kuantitatif, kealiman seseorang hanya sebatas publikasi media.

Karena itu, kemakmuran yang dirasakan oleh masyarakt adalah kemakmuran fantasi, kesejahteraan yang dinikmati oleh masyarakat adalah kesejahteraan palsu. Kemiskinan tetap menyesaki ruang-ruang sosial, meski data menunjukkan berkurangnya kemiskinan hingga sekian persen.

Itulah yang ileh Jean Baudrillard disebut sebagai simulacra politik. Simulacra menurut Baudrillard adalah sebuah strategi untuk menutupi kebenaran, simulacra merupakan kebenaran yang sebenarnya tidak ada dalam kenyataan, tetapi dia justru menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya.

Menurut Yasraf A.Pillaing, simulacra adalah dunia dimana kontruksi-kontruksi kebenaran yang bersifat fiktif, dan retoris, mengambil alih kebenaran (truth) yang sesungguhnya. Simulacra dikonstruksi oleh unsur-unsur seperti game of image dan permainan tanda, retorika, bahkan pembohongan informasi. Apa yang ditampilkan hanyalah kepura-puraan, keseolah-olahan, citra, make up dan artifisialitas.

Hal yang kemudia membahayakan adalah ketika simulacra itu merangsek ke dalam dunia hukum. Hukum yang seharusnya berdasarkan pada asas legalitas yang harus didukung oleh fakta-fakta hukum, pada akhirnya hanya menampilkan unsur-unsur artifisialitas dan pembohongan. Hal ini terjadi karena hukum sudah dikuasai oleh kaum pemodal dan penguasa.

Fakta-fakta hukum kemudian disulap menjadi ilusi, sementara ilusi hukum diposisikan sebagai fakta hukum. Terbalik? Ya, itu kenyataan. Akhirnya reabilitas hukum menjadi tumpang tindih. Sehingga kita sulit untuk membedakan mana kasus hukum yang sebenarnya Fake Oakleys dan mana yang direkayasa. Semakin miris rasanya, karena bukti-bukti dalam hukum dan pengadilan begitu mudahnya direkayasa justru oleh para aparat hukum sendiri. Bukan mengungkapkan fakta, melainkan merekayasa dan memutarbalikkan fakta. Miris? Itulah yang terjadi.

Dari sinilah maka, kisah dua sahabat yang telah kita baca bersama di artikel sebelumnya, Umar dan Utsman. Kisah ini menyerukan kepada kita, umat Islam untuk selalu berpegang teguh pada kebenaran. Jangan tertipu kepalsuan, carilah kesejatian, jangan tergoda oleh ilusi-ilusi, carilah bukti-bukti yang menunjukkan fakta, jangan terbujuk oleh sensasi dan pencitraan, peganglah substansi dan kenyataan yang sebenarnya.

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber: buku ‘Pidato Para Khilafah’ karya Dr. H. Abd. Halim, M.A)

 

Leave a Reply