Allah melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap.” (HR. Ahmad)

Suap adalah suatu pemberian dalam konteks negatif yang bertujuan mencari jalan kemudahan atau keringanan kepada pihak tertentu agar apa yang diinginkan terpenuhi. Aksi suap-menyuap ini sebenarnya memiliki perbedaan tipis dengan hadiah.

Sebagaimana kasus yang pernah terjadi pada zaman sahabat. Rasulullah saw pernah memperkerjakan seorang laki-laki untuk mengelola zakat Bani Sulaim. Laki-laki itu sering dipanggil dengan nama Ibnu Al-Latabiyah. Suatu hari ia mendatangi Rasulullah saw dan menyampaikan “hasil” kerjanya. “Ini adalah hartamu dan ini hadiah,” ujarnya.




Rasulullah saw spontan menimpali, “Kenapa kamu tidak duduk-duduk saja di rumah ayahmu atau ibumu cheap Oakleys sunglasses sampai hadiahmu datang kepadamu jika kamu jujur?”

Setelah itu, beliau berpidato di hadapan sahabat. Setelah memuja dan memuji Allah, beliau bersabda, “Amma ba’du. Sesungguhnya jordans for cheap saya memperkerjakan salah seorang di antara kalian untuk mengumpulkan zakat yang telah Allah kuasakan kepadaku, lantas ia datang dan mengatakan, ‘Ini hartamu dan ini hadiah yang diberikan kepadaku’. Kenapa dia tidak duduk-duduk saja di rumah ayahnya atau ibunya sampai hadiah datang kepadanya? Demi Allah, tidaklah salah seorang diantara kalian mengambil sesuatu yang bukan haknya, selain ia menjumpai Allah pada hari kiamat dengan memikul hak itu. Aku tahu salah seorang diantara kalian menjumpai Allah dengan memikul unta yang mendengus, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik.”

Saudaraku..

Suap adalah pemberian kepada seseorang discount oakley untuk kepentingan tertentu. Di zaman yang serba permisif saat ini, banyak orang membuat dalih yang tampaknya lurus tapi sebenarnya bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran. Suap sering kali dianggap Lumpur, sebagai hadiah.

Hakim yang memutuskan perkara dengan ringan, fake oakleys kemudian wholesale football jerseys tersangka memberi mobil mewah. Mobil mewah itu dianggap sebagai hadiah. Penguasa yang tender proyeknya menang, lalu memberi pejabat pemerintah sejumlah cek perjalanan. Cek itu dianggap sebagai hadiah.

Potret semacam ini telah menjadi lagu lama yang kerap menghiasi kehidupan kita. Ada pejabat yang hanya bergaji Rp 10 juta, hidup dengan seorang istri dan dua anak, serta tak mempunyai usaha sampingan. Namun, dia bisa membeli mobil mewah, rumah berharga miliaran rupiah, villa di berbagai puncak gunung, dan berbagai barang mewah lainnya. Apa itu wajar?

Dalihnya..”Ini uang tip”, “Kami tidak pernah meminta”, “Hanya jasa tambahan”, “Sama-sama untung dan tidak ada yang dirugikan”

Ketahuilah saudaraku, segala praktik suap bukan hanya membinasakan pelakunya tapi juga merusak sendi-sendi kehidupan dan tatanan masyarakat secara umum. Rendahnya penegakan hukum, menipisnya nilai keadilan, serta hilangnya sifat amanah pejabat dalam mengemban tugas adalah dampak buruk dari praktik suap yang sudah mendarah daging.

Rasulullah saw menasehati, “Allah melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap.” (HR. Ahmad)

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber : buku ‘Betapa Rasulullah Merindukanmu’ karya Abdillah F.Hasan)