Hidup itu untuk apa?

Alangkah murahnya nilai hidup ini kalau hanya semata-mata terbatas pada kebendaan. Apalah harganya manusia ini kalau pikirannya hanya tertuju kepada nasi dan gulai, roti dan garam. Tak pernah matanya singgah kepada Cheap nfl Jerseys bunga yang AntiTrust sedang mekar atau bintang berkelip di halaman langit.

Alangkah gersangnya hidup itu kalau kerja petang pagi, siang malam, hanya menghitung membilang, membagi, membuat kali-kali. Memperinci ilmu pasti cheap football jerseys pada alam, tetapi tak meresapkan keindahan yang ada dalam alam.




Tubuh menghendaki benda untuk menyuburkannya, ia hendak makan, hendak berpakaian, hendak bertempat tinggal. Akal berkehendak kepada bahan yang akan dipikirkan menurut undang-undang berpikir (logika). Namun, di samping tubuh dan akal, ada lagi perasaan halus, (‘athifah atau gevoel). Hal yang meninggikan semarak perasaan halus itu ialah keindahan.

Ilmu pasti dan logika kerap kali kering dan gersang. Namun, hidup dalam perasaan karena keindahan adalah lunak dan halus. Menimbulkan serba rasa, sejak gembira dan bahagia sampai pada terharu, dan semuanya menimbulkan ilham.

Perasaan ialah garam hidup. Dengan perasaan manusia merenung, mencari ketenangan dalam pergolakan. Menampak bahagia dalam sengsara. Menampak jernihnya masa depan dalam keruhnya yang sekarang. Imbangan nada tinggi melengking dengan nada rendah mengendur, itulah ia musik Cheap NFL Jerseys dari kehidupan.

Perasaan, apabila diasuh diasah akan tajamlah ia untuk mencari yang indah sehingga dilihat orang di luar dinding maka disangka orang siksa, padahal bagi orang dalam dan dinding dirasakan nikmat.

Manusia sejak ia dijelmakan selalu merentangkan tali antara alam dan hatinya. Tumbuhlah kehalusan perasaan itu dengan sedergana pada mulanya karena melihat keindahan langit, kesuburan bumi, dan keluasan laut, warna warni bulu burung dan mekarnya kembang, serta matahari yang terbit dan terbenam.

Namun, karena beratnya tekanan hidup, mencari seliter beras saja terkadang kendurlah tali hubungan hati dengan alam atau pudar sama sekali. Demi apabila keperluan sehari-hari berangsur kemakmurannya, mulailah dirasakan bahwa hidup bukanlah semata-mata mencari makan. Hidup bukanlah semata-mata tekun mencari ilmu. Ada yang lebih tinggi dari makan dan ilmu, yaitu kehalusan perasaan untuk menangkap yang indah, yang ada di sekeliling diri.

Apabila ini tercapai, inilah tiang hidup.

Alangkah ramai dan banyaknya yang indah dalam alam ini. Bertambah direnung dan dilihat maka bertambah jelas kesatuan pokok dalam berbagai ranting. Kesatuan ulu dalam berbagai ilir.

Alangkah miskinnya hidup ini kalau mata berkembang, tapi tak melihat. Telinga terdandang, tapi tak mendengar. Alangkah payahnya menggesek rebab di telinga kerbau.

Gosoklah mata ini bukan dari luar, tapi dari dalam. Cukillah kotoran dalam telinga bukan dari kulitnya, tapi dari isinya sehingga apabila melihat yang indah, saudara tidak ingin hendak merusakkannya.

bersambung…

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber: wholesale nfl jerseys buku ‘Pandangan Hidup Muslim’ karya Prof. Dr. Hamka)