Meskipun Abu Amir telah berbuat demikian, Islam bukan mundur dan Nabi masih tetap sehat dan meneruskan memimpin perjuangan. Luka-luka yang beliau derita dalam Perang Uhud tidak menghalangi beliau untuk meneruskan memimpin perjuangan .

Tidak puas hatinya dengan kegagalan kaum Quraisy menantang Nabi karena Nabi juga yang menang. Lalu, Abu Amir berbuat lebih nekat lagi. Diadakannya hubungan dengan Raja Heraclius di Syam (Suriah) dan diundangnya tentara Romawi untuk menyerang Madinah. Dicobanya datang ke Madinah mencari teman-teman lama, akan diajaknya bersekongkol menantang Nabi Saw tetapi sambutan tidak ada.

Lamaran sakit hati dan dendam yang tidak lepas, ia pergi ke negeri Syam, menemui Raja Heraclius cheap jordans online dan merayu raja itu supaya mau menyerang Madinah, kampung halamannya sendiri. Lalu, diaturnya siasat, akan didirikan sebuah masjid berdekatan jordan retro 11 dengan Masjid Quba. Dalam masjid itu orang-orang yang sepaham, orang-orang yang munafik Cheap Oakleys Sunglasses akan berkumpul selalu. Sewaktu-waktu Abu Amir akan datang dengan sembunyi. Pada lahirnya masjid itu jadi tempat orang berkumpul untuk shalat, tetapi pada batinnya adalah tempat mengadakan rapat rahasia. Tujuannya yang terakhir ialah menjadi tempatan kierunek (markas) kelak kalau tentara Romawi datang menyerang Madinah.




Pengikut Abu Amir yang menjadi tulang punggung pendirian masjid ini dua belas orang banyaknya. Jamaah yang 12 orang itu pernah mengirim wakil menghadap Rasulullah Saw memohon beliau agar sekali sudi shalat di masjid itu, dan beliau telah menyanggupi. Beliau akan shalat di sana sekembali dari Perang Tabuk. Namun, sebelum janji itu dipenuhi beliau, wahyu turun, yaitu ayat 107, 108, 109, dan 110, dari surat At-Taubah.

Di ayat 107, sebagaimana yang kita salinkan di atas. Tuhan menyatakan bahwa NFL Jerseys Cheap maksud pendirian masjid itu adalah sangat jahat. Bukan untuk beribadah, tetapi untuk menimbulkan bencana, Cheap Football Jerseys tempat menghasut dan menebarkan rasa benci.

Tempat bencana, tempat kufur, dan tempat menimbulkan perpecahan di antara sesama Islam. Bahkan lebih dari itu, tempat menunggu kedatangan orang yang sejak semula merencanakan hendak memerangi Allah dan Rasul-Nya, yaitu tentara Romawi dari Syam. Mereka bersumpah bahwa maksud mereka adalah baik, tetapi Allah yang menjadi saksi bahwa mereka adalah bohong semua.

Di ayat 108 disampaikan larangan tegas kepada Nabi Saw supaya beliau tidak pergi shalat ke tempat itu. Tempat beliau shalat hanyalah pada masjid yang telah didasarkan atas taqwa sejak hari pertama didirikan. Sebab, di dalam masjid yang berdiri di atas dasar taqwa itu terdapat orang-orang yang selalu mencintai kesucian dan kebersihan, baik suci hati maupun suci badan.

bersambung…

(‘Mendirikan Sebuah Masjid’, salah satu tulisan Buya Hamka di rubrik Dari Hati Ke Hati majalah Panji Masyarakat 1967 – 1981)