Pendapat saya yang mengategorikan jihad ke dalam kelompok muamalah tidak boleh memisahkan jihad dari agama. Sebab, menurut Islam, dunia berkaitan dengan akhirat, negara berkaitan dengan dakwah, dan muamalah berkaitan dengan ibadah. Di antara kedua hal tersebut tidak ada pemisahan secara absolut. Tidak seperti agama Nasrani yang berpendapat, “Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi miliknya, dan berikan kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan juga.”

Islam tidak menerima jika kehidupan harus oakley sunglasses for men dibagi antara kaisar dan Allah. Islam tidak menerima jika manusia dibagi menjadi dua hal: ruh harus diatur oleh gereja, sedangkah jasad dan akal harus diatur oleh negara. Islam tidak menerima pandangan dualistis seperti ini, karena tidak sesuai dengan hakikat kehidupan dan manusia. Bahkan, ilmu moderen dan realitas pun menolaknya.

Sebagaimana diketahui, syariat Islam dalam urusan ibadah dijelaskan secara terperinci, terbatas, dan teratur. Tidak banyak berubah seiring perubahan waktu, tempat, lingkungan, dan kondisi.




Adapun dalam muamalah, akal seorang Muslim diberi porsi yang sangat banyak agar ia bisa berijtihad, memperbarui, dan membuat perincian-perincian yang sesuai dengan kebutuhan, waktu, tempat, cheap football jerseys dan perkembangan manusia. Karena itu, siyasah syar’iyyah berada dalam wilayah yang dianulir (al-afw). Allah Swt secara sengaja discount football jerseys meninggalkan persoalan tersebut tanpa teks-teks yang ketat, dengan tujuan melapangkan dan memudahkan manusia. Teks tersebut datang dalam bentuk global. Hal seperti ini Düzce juga bisa kita temui dalam masalah musyawarah, keadilan, amar ma’ruf nahi mungkar, dan yang lainnya.

Akan tetapi ada hal penting yang harus saya tegaskan di sini, yaitu sebagian ibadah besar seperti zakat masuk ke dalam inti kehidupan. Zakat terkategorikan ke dalam sistem finansial (al-nizham al-mali) dan sistem sosial (al-nizham al-ijtima’i) Islam. Zakat berkaitan dengan masalah ekonomi dan politik.

Di samping itu, ada hal lain yang harus ditegaskan, yaitu jika jihad dilakukan dengan cara yang ditentukan oleh syariat, niat yang benar, serta memperhatikan batasan-batasan (hudud) Allah dan akhlak-akhlak Islam, jihad pun dianggap sebagai ibadah yang paling besar dan bisa mendekatkan diri kepada-Nya. Bahkan, Imam Ahmad mengategorikan jihad ke dalam amal shaleh seorang Muslim yang paling mulia. Karena itu, Allah Swt kemudian menjeleaskan keutamaan dan pahala jihad di dalam banyak ayat Al Qur’an dam teks hadits.

Barangkali, inilah yang menjadi alasan Syi’ah Imamiyyah mengategorikan jihadi sebagai salah Cheap Jordans satu Oakleys Outlet rukun Islam. Mereka berbeda dengan Ahlu Sunnah yang hanya membatasi rukun Islam dalam lima perkara.

(Sumber: Kitab Fiqih Jihad oleh Ustadz Yusur Qardhawi)