Pelantun Buah Bibir (Bag 1)




Pagi itu, tepat pukul enam lewat limabelas menit, seorang wanita paruh baya yang tengah ditunggu Arimbi sudah berdiri di ambang pintu ruang depan. Tubuh gempalnya mengenakan kaus partai yang sudah robek di bagian bahu kanan dan celana kain kotak-kotak lebar dengan panjang sedikit melewati lutut. Rambutnya yang tipis dan telah beruban di beberapa bagian dikucirnya dengan rapi ke belakang hanya dengan menggunakan karet gelang. Sementara kakinya yang penuh dengan tanda kasar bertelanjang, karena beberapa menit yang lalu ia melepas sepasang sandal jepitnya di sisi teras.

Arimbi tersenyum, lalu mempersilakan wanita tersebut masuk dan duduk di sofa ruang tamu.

“Panggil saja saya Jum… Kalau Bu Radhiya sekeluarga biasanya memanggil saya Bik Jum. Ah… sebenernya kan kita sudah kenal ya, Bu? Sudah sering ketemu juga. Ibu Arimbi sudah tahu. Tapi ya… sekarang kan beda, jadi saya pingin perkenalan formil ke Ibu.”




Di depannya cheap nba jerseys Arimbi melebarkan mata dan mengangguk pelan. Sebelumnya ia sempat sedikit terkejut, karena di luar dugaan, Bik Jum berinisiatif memperkenalkan diri tanpa perlu basa-basi terlebih dulu. Selanjutnya Arimbi memaklumi dan mulai bersuara. “Iya, betul.” Lalu, tersenyum.

“Saya kerja di Bu Radhiya setiap hari Senin, Rabu, sama Jumat. Jadi saya bisa kerja di sini hari Selasa, Kamis, sama Sabtu,” ujar Bik Jum, meneguk teh hangat yang baru saja dikeluarkan oleh Arimbi, dan kembali membuka mulut untuk berucap, “Begitu ORGANİZASYONU kan, Bu?”

“Oh?” Arimbi yang kembali terheran karena ke-proaktif-an Bik Jum menjawab singkat. “Iya, Bik Jum. Betul.”

Senyum tersungging di wajah Bik Jum dan memperlihatkan deretan gigi penuh selipan noda. “Ngomong-ngomong Bapak ke mana, Bu? Kok sepi? Pagi-pagi gini sudah ngantor ya?”

“I-iya?” Arimbi mengangkat alis. “Oh iya, Bapak lagi ke Semarang beberapa hari,” jawab Arimbi, lalu melanjutkan, “Bik Jum udah sarapan?”

Wanita itu menggeleng sambil tersenyum malu-malu. Sementara Arimbi menahan tawa yang hampir terlepas. Noda cabai dan sayur yang baru saja dilihatnya di sela-sela gigi Bik Jum membuatnya setengah tidak percaya. “Ya udah, sarapan dulu yuk. Habis itu Bik Jum bisa mulai beberes.”

“Baik, Bu.”

***

Arimbi baru saja melayani seorang pelanggan saat sahabatnya Listy muncul dari balik pintu kaca. “Haaaiii…” sapa Arimbi dengan wajah cerah.

Listy yang siang itu mengenakan jilbab berwarna hijau toska menghambur ke arah Arimbi dan mencium pipi kanan dan kirinya. “Sumringah bener wajah lo. Omset naik nih kayanya,” ucap Listy dengan nada menggoda.

“Ha ha. Bisa aja lo. Gimana nggak seneng gue? Akhirnya dapet juga asisten rumah tangga baru. Jadi pulang dari toko gue bisa santai deh.” Arimbi menanggapi jujur. Sudah hampir dua bulan sejak asisten rumah tangga sebelumnya berhenti, wanita muda itu masih harus mengurus rumah meski sudah seharian mengelola toko pakaiannya.

“Oh iya, gimana gimana? Akhirnya lo dapet dari mana?” Listy bertanya penasaran.

“Sebenernya dia kerja di tetangga gue, Bu Radhiya, itu lho, yang rumahnya jarak dua rumah dari rumah di depan gue. Tapi seminggu cheap jerseys wholesale cuma tiga hari. Jadi kerja di gue ya tiga hari sisanya.”

“Sebentar,” Listy menyela. “Bu Radhiya yang suaminya kerja di perusahaan asuransi itu?” Arimbi mengangguk. “Iya. Lo kan pernah gue kenalin.”

<p Ray Ban sale style=”text-align: left”>“Bukannya lo bilang bibi yang kerja di situ orangnya suka ngegosip?” Arimbi menatap Listy, lalu tersenyum. Sementara sahabatnya itu justru mencubit Arimbi. “Emang lo nggak cemas si bibi bakal ngegosipin lo di luar sana?”

“Ya cemas lah,” jawab Arimbi cepat, lalu menghela napas panjang. “Habisnya gue ngeri sama yang belum kenal. Jadi gue ambil resiko deh.” Pikiran wanita itu langsung melayang ke hari kemarin. Saat itu Bik Jum sedang membereskan halaman belakang. Sementara Arimbi sedang membaca-baca resep makanan, Bik Jum Cheap Football Jerseys tidak berhenti menceritakan tentang keponakannya.

“Keponakan saya anaknya cantik, Bu. Orangnya juga cekatan, makanya dia nggak boleh keluar sama majikannya di luar negeri sana. Tapi ya gitu…” Bik Jum menggantung kalimat yang membuat Arimbi penasaran. Lalu tanpa diminta, kembali melanjutkannya dengan suara yang lebih pelan dan bibir lebih maju. “…anaknya genit sama suka dandan. Makanya kemarin pulang-pulang bawa anak. Mukanya bule. Katanya sih sama temen majikannya.”
Arimbi bergidik sambil istighfar. Bagaimana ia tidak khawatir jika suatu hari nanti aibnya diceritakan oleh seseorang dengan cara demikian? Astaghfirullah…

bersambung…

Oleh: An Nisaa Gettar

Leave a Reply