Lihatlah Cheap MLB Jerseys matahari yang indah tapi perkasa ini. Ia adalah sumber dari cahaya kita dan api kita. Kedatangannnya dan kepergiannya selama 24 jam meninggalkan bekas yang terbilang ajaib pada alam kita. Kepada laut, cahaya yang panas itu menyebabkan uap, dan uap diangkat oleh awan ke langit. Setelah berkumpul ia menjadi mega mendung dan turun balik ke bumi, itulah yang kita kenal dengan hujan.

Hujan tersebut akhirnya mengalir cheap football jerseys ke sungai, kali, dan lainnya. Air hujan tersebut masuk ke dalam urat kayu, maka mekarlah bunga, Kemudian air-air hujan itu ke lautan tempat datangnya dan sebab musabab datangnya hujan.

Panas cahaya matahari mempermainkan angin, dan fake oakleys angin mempermainkan laut sehingga jadilah alun. Alun menimbulkan gelombang, gelombang menimbulkan ombak dan ombak memecah keheningan pantai. Bahtera besar sedang berlayar pun dipermainkannya, dibuai-buaikannya laksana sabut terapung pada sebuah kolam kecil saja. Manusia yang menumpang di kapal itu dipermainkan pula oleh kapal itu sendiri.




Lihatlah bulan yang bening damai itu tak berhenti ia membawa keindahan sejak masih bulan sabit kecil kurus ramping. Tiap malam diperlihatkannya perubahannya. Laksana seorang gadis menunggu tunangannya datang sehingga ia kurus karena berharap cemas, tetapi kian lama kian gemuk, sebab telah bertemu sang pujaan hati. Namun, setelah pertemuan, tunangan itu pergi lagi seakan tak akan kembali, sehingga kuruslah yang ditinggalkan.

Sepanjang bulan pada setiap tahun kita diberi peringatan tentang nasib yang harus dilalui manusia dalam hidup, sejak kecil, kanak-kanak sampai menjadi seorang remaja sampai matang sempurna umur sampai menurun kembali hingga sampai tua dan sampai hilang. Bulan itu pun mempermainkan air laut sehingga timbul pasang naik dan pasang turun.

Berdiri di tepi Danau Singkarak pada tengah hari, ia kelihatan laksana seorang gadis jolong naik yang belum pernah kena tipuan wholesale jerseys hidup, gembira dan senyum terus, berlari lincah laksana anak kijang . Percaya bahwa manusia jujur semua.

Berdiri di tepi Danau Maninjau pada tengah hari, ia kelihatan laksana orang tua yang telah banyak merasakan pahit-getirnya kehidupan sehingga laksana digantung, disukatnya segala senyum yang disenyumkan oleh Movie orang yang baru datang.

Bukit dan gunung pun demikian. Naik pesawat menuju Eropa sampai ke Sabang masih kelihatan hijau alamat kesuburan. Sampai di tanah Arab, kelihatan batu granit hitam. Sampai di jordans for sale pegunungan Alpen, kelihatan gunung putih bersih diselimuti salju.

Kemudian bertanyalah diri terhadap diri, “Apakah yang indah ini, dimana aku tahu apa yang indah. Dimana yang sebenarnya indah itu? Adakah aku meresapi keindahan kalau dalam aku sendiri tidak ada keindahan?

Siram dan suburkanlah rasa keindahan yang ada dalam jiwa kita sebab ia adalah alat penangkap keindahan di luar diri. Apabila telah berpadu antara keindahan diluar dan yang ada di dalam, niscaya akan keluar dari mulut kita satu ucapan yang tak ada ucapan di atasnya lagi, “ Rabbanaa maa khalaqta hadza bathilan Subhaanak!” (Ya Rabb, semuanya ini tidak ada yang Engkau jadikan dengan sia-sia. Amat suci Engkau).

Selesai…

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber: buku ‘Pandangan Hidup Muslim’ karya Prof. Dr. Hamka)