“Bu Arimbi yang sabar aja ya,” ucap Bu Radhiya sambil meletakkan secangkir teh panas yang masih mengepul di atas meja. “Silakan diminum,” lanjutnya.
Arimbi tersenyum. “Makasih, Bu.”
“Sering-sering ingetin aja, supaya Bik Jum nggak usah ngobrolin yang aneh-aneh pas lagi kerja.”
Arimbi menyesap tehnya, lalu tersenyum tipis. “Oh iya, berarti Bik Jum udah kerja sama Ibu berapa lama ya?”

Bu Radhiya memutar bola matanya berpikir. “Sekitar satu setengah tahun, Bu.”
“Lumayan lama juga ya?” Arimbi melebarkan kedua matanya. “Memang Ibu nggak takut Bik Jum ngegosipin Ibu di luar sana?”
“Pasti khawatir lah, Bu. Saya kan udah sering bilang juga ke Bu Arimbi. Makanya saya ati-ati banget kalau di depan Bik Jum. Nggak berani curhat soal rumah tangga. Di sisi lain, mau berhentiin juga kasihan. Anak-anaknya masih pada sekolah.”

Arimbi mencerna kalimat Bu Radhiya baru saja. Ah… Bik Jum baru menginjak minggu kedua bekerja sebagai asistennya. Baiklah. Ke depan ia akan lebih bersabar dan berusaha mengingatkan lagi.
Setelah keduanya melanjutkan perbincangan—dengan topik lain tentunya—Arimbi berpamitan pulang. Cheap NFL Jerseys Di tengah jalan, ia pun bertemu dengan Bu Yogita, seorang tetangga yang tinggal lumayan jauh dari rumah Oakleys Outlet Arimbi.




“Mau ke mana, Bu?”
“Ke rumah Bu Radhiya. Biasa… nganterin jahitan. Bu Arimbi mau ke mana?” Bu Yogita menerima sapaan Arimbi dan balik bertanya.
Arimbi tersenyum. “Mau pulang. Saya juga baru dari rumah Bu Radhiya.”
“Wah, harusnya saya dateng lebih cepet ya.”
Arimbi kembali tersenyum. “Nanti deh kita kumpul-kumpul lagi.”

“Iya ayo…” sahut Bu Yogita. “Oh iya, katanya suami ke luar kota lama? Main aja ke rumah kalau sepi sendirian.”
“Oh?” Arimbi terkejut. Lalu, segera tersenyum lebar dan menjawab, “Siap. Besok sore saya ke rumah Ibu ya. InsyaAllah.”
Bagaimana bisa Bu Yogita tahu soal suaminya? Ah! Pasti… Arimbi pun mendesah panjang, kemudian beristighfar. Kini hanya ada cheap football jerseys satu nama yang bertengger di otaknya.
Bik Jum.

***

Saat musim hujan seperti ini, hujan datang tidak kenal waktu. Sejak turun tengah malam tadi, pagi ini hujan masih belum mereda. Arimbi yang sedang merasa tidak enak badan memutuskan untuk tetap di rumah dan meminta pekerjanya saja untuk menjaga toko. Sekitar pukul sembilan, ia keluar dari kamar dan berniat membuat secangkir teh oakley sunglasses for men hijau untuk руками menghangatkan tubuh. Ketika itu dijumpainya Bik Jum sedang mengepel lantai teras belakang.

“Nggak usah dipel dulu aja, cheap fake oakleys Bik. Kalau hujannya belum reda, pasti kotor terus. Nggak apa-apa. Nanti aja dipelnya,” ucap Arimbi dengan nada setengah berteriak, mengingat suara seraknya harus beradu dengan deru hujan di luar sana.
Tubuh gempal Bik Jum yang tengah berjongkok berhenti dan menoleh. “Nggak apa-apa, Bu? Barangkali nanti Bu Arimbi kepeleset.”

Arimbi tidak dapat menahan senyumnya mendengar tanggapan Bik Jum. “Nggak, Bik. Saya nggak akan ke situ dulu deh, biar nggak kepeleset.”
Senyum Bik Jum pun mengembang. “Baik, Bu.”
“Hujan-hujan gini enaknya minum yang anget-anget. Mending Bik Jum temenin saya nge-teh dulu di sini,” tawar Arimbi yang sudah duduk manis di ruang makan bersama teh hijau-nya.
Bik Jum yang baru saja merapikan peralatan pel segera datang menghampiri Arimbi. “Mau saya bikinin pisang goreng, Bu? Biar lengkap.”
“Boleh boleh,” jawab Arimbi dengan senyum lebar.

bersambung…

Oleh: An Nisaa Gettar