Duhai, mungkinkah masa lalu itu bisa kembali lagi, sesungguhnya aku larut dalam kerinduan kepadanya, dulu dalam rentang yang lama kita pernah membangun kerajaan  di bumi ini. Yang dipanggul oleh para pemuda hebat. Pemuda yang jika menyaksikan pertempuran mereka adalah pahlawan yang menggoncangkan benteng dan jika malam telah larut kalian akan mendapati mereka bersujud karena takut Allah. (Mushthafa Shadiq Ar-Rafi’i)

Apa-apa yang hilang dari diri kita, kadang terjadi karena tindakan Fake Oakleys kita. Sebagian yang lain mungkin bukan. Maka, menengok apa yang cheap MLB Jerseys hilang dari kita sangatlah penting. Tetapi lebih penting lagi mengerti bagaimana kehilangan itu terjadi, lalu dengan pengertian itu pula kita mengetahui apa pengaruhnya bagi jati diri kita.

Banyak yang harus kita cermati, apa saja yang mungkin hilang dari diri kita. Tetapi hal-hal berikut, barangkali layak diperhatikan, sekadar sebagai sudur pandang yang mungkin bisa memetakan, dimana dan hendak kemanakah kita melangkah, ditengah persimpangan jalan-jalan yang telah melenyapkan dan menghilangkan banyak hal dari banyak orang.




1. Kehilangan gairah dan semangat penghambaan

Ini mungkin sangat klasik. Tapi, mari sejenak berbicara tentang iman. Sebuah kendaraan sampai ke tujuan hidup yang sesungguhnya. Tujuan akhir dari penciptaan diri kita adalah menghamba kepada Allah swt. Lalu, mengharap ridha-Nya, memohon surga-Nya, dan meminta dijauhkan dari neraka-Nya.

Gairah penghambaan. Itu istilah yang bisa kita pakai untuk menggambarkan kondisi keimanan kita. Kuat atau lemahnya, tinggi atau rendahnya. Iman, memang naik dan turun. Maka semangat kita untuk menghayati seluruh warna-warni kehidupan Cheap Ray Bans ini, sebagai apapun kita. Dalam frame dan bingkai iman, kadang juga turut naik atau turun. Itu sangat bisa terjadi pada diri kita, juga pada diri siapapun.

Bila begitu kenyataannya, pasti selalu akan ada yang terasa hilang dari gairah penghambaan itu, pada jenak-jenak ketika iman itu sedang turun. Dunia yang penuh gemerlap, bisa saja menyeret kita menjadi orang-orang yang lupa akan tujuan akhir hidup ini. Karenanya, Abu Darda’ berkata, “Sesungguhnya di antara tanda kepahaman seorang hamba, adalah menjaga cheap nfl jerseys imannya dari hal-hal yang bisa menguranginya. Serta memahami, apakah sedang Facebook bertambah atau berkurang cheap ray ban sungalsses imannya tersebut.”

Kehilangan jenis ini, sejujurnya harus dipahami sebagai kehilangan yang paling besar. Sebab apalah arti hidup bila tidak ada lagi tujuan mengharap ridha Allah swt. Dalam bentuk beribadah kepada Allah, mungkin semangat kita melakukan ibadah-ibadah tidak lagi sekuat dahulu. Shalat sunnah misalnya, puasa sunnah, membaca Al-Quran.

Atau dalam bentuk keyakinan, mungkin tiba-tiba kita seperti anak kemarin sore yang masih belajar mengenal Tuhannya. Sepertinya kita begitu asing dengan eksistensi Allah, tentang makna kematian, alam kubur, hari kiamat, surga dan neraka. Sepertinya pikiran-pikiran tentang hal itu hilang dari rasionalitas kita. Tiba-tiba hati kita begitu kering kerontang. Seperti kemarau panjang yang panas menusuk tulang-tulang.

bersambung…

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber: buku ‘Tarbawi’ edisi 69)