Mencari Momentum Perbaikan Diri (Bag 1)




Proses perbaikan diri, menggapai ridha dan ampunan Ilahi, kadang-kadang dipengaruhi banyak hal. Tidak saja faktor internal orangnya, tapi juga lingkungan yang mengitarinya. Walaupun, variabel di luar diri manusia sebenarnya lebih bersifat pendukung semata. Selebihnya, banyak unsur dikembalikan kepada diri orang tersebut.

Namun begitu, menganggap remeh faktor lingkungan juga kurang tepat. Bila proses perbaikan diri selalu terkalahkan oleh lingkungan bisa direkacipta untuk menyukseskan proses perbaikan cheap jordans for sale diri apa salahnya. Lingkungan–baik waktu, tempat, maupun peristiwa–sebenarnya bisa menjadi momentum perbaikan diri yang luar biasa. Revizyon Karenanya, tidak harus seorang muslim membuang muka dengan lingkungan. Lebih baik menjadikannya sebagai momentum perbaikan Ray Ban Sunglasses diri. Berikut ini beberapa contoh momentum penting yang sangat strategis bagi upaya perbaikan diri. Setiap muslim bisa memanfaatkannya sesuai kapasitas cheap nfl jerseys shop masing-masing.

1. Tertimpa musibah dan ujian




Hidup tak selamanya menyenangkan. Tidak jarang musibah datang mengganti warna-warni keceriaan. Ditinggal mati suami, istri, atau anak, sebagai contoh. Terputus dari pekerjaan juga ujian. Demikian pula kehilangan harta kekayaan, tertimpa bencana alam, atau mengalami hal-hal lain yang tidak menyenangkan.

Bagi seorang muslim, segala peristiwa itu harus bisa menjadi momentum perbaikan sekaligus alat mengevaluasi diri. Tetapi menjadi baik dengan bertumpu pada musibah tentu kurang bijak. Apalagi secara syariat dan etika tidak diperkenankan mengharap-harap musibah.

Dengan musibah akan ada rasa ketergantungan kepada yang lebih perkasa, yang lebih kuat, yang lebih menjanjikan. Allah lah tempat menggantungkan segala rasa itu. Kepada-Nya segala keluh kesah bisa leluasa ditumpahkan. Kesadaran ini sangat manusiawi, bagian dari cheap nfl jerseys fitrah yang masih murni. Fir’aun saja, begitu pasrat pada pada detik-detik menjelang kematiannya. Hingga ia membenarkan bahwa Tuhan yang benar adalah Tuhannya Musa, Allah Swt. Tapi segalanya telah terlambat. Begitulah manusia, seringkali kesadaran baru hadir alam dirinya setelah segalanya harus berakhir.

Hanya saja, yang perlu diperhatikan, bagaimana menjaga stamina perbaikan diri itu agar tetap sesegar saat musibah dan ujian itu menimpa. Sebab, seakan menjadi tabiat cheap jordan shoes manusia, sering kali ia menjadi baik tatkala musibah masih menerpa. Begitula segalanya normal, secepat itu pula ia berbalik kepada tabiat buruknya. Allah Swt mengingatkan, “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-seolah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya.” (QS. Yunus: 12)

2. Bertafakkur alam

Cara lain untuk membuat momentum perbaikan diri adalah dengan bertafakkur alam. Maksudnya, dengan cara menghayati isi alam semesta ini. Entah itu sawah ladangnya, sungai atau ngarainya, gunung atau lembahnya, lautan atau daratannya, bumi atau langitnya, dengan segala tabiat-tabiat khas yang berbeda-beda.

bersambung…

(Sumber: Majalah Tarbawi)

Leave a Reply