Allah berfirman, “Aku bergantung pada prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam lintasan pikirannya, niscaya Aku akan mengingatnya dalam pikirannya,kebaikan darinya (amal-amalnya). Jika ia mendekat kepada-Ku setapak, Aku akan mendekatkannya kepada-Ku sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekatkannya kepada -Ku sedepa. Jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan menghampirinya dengan berlari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah Abu Thalib dan Khadijah ra wafat, Rasulullah cheap ray ban sungalsses saw merasakan kesedihan yang luar biasa. Sebaliknya, orang-orang musyrik justru bergembira. Mereka menganggap beliau tidak lagi memiliki kekuatan. Orangtua yang melindungi beliau telah tiada. Beliau pun tidak lagi memiliki seorang istri yang dapat meringankan beban penderitaan beliau.

Melihat kondisi Mekkah yang tak terkendali, akhirnya Rasulullah saw mencari lokasi lain untuk melangsungkan nba jerseys sales dakwah, tepatnya di Thaif. Rasulullah berharap penduduk di sana mau memberi pertolongan dan menerima misi kerasulan-Nya. Namun, perlakuan orang-orang Thaif pun tak kalah memperihatinkan. Mereka meluapkan amarah dan mengusir Rasulullah saw. Mereka bahkan melakukan perbuatan terkutuk, melempari beliau dengan batu-batuan yang kemudian menolong beliau.




Menolong kondisi Rasulullah saw yang menkhawatirkan, atas perintah Allah turunlah malaikat yang memberi tawaran kepada beliau. “Ya Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar jawaban kaummu kepadamu. Aku adalah malaikat penunggu gunung. Tuhanmu telah mengutusku untuk melaksanakan apa saja yang akan kamu perintahkan kepadaku. Apakah yang kamu inginkan sekarang, ya Muhammad? Jika kamu ingin agar mereka dijepit dengan dua buah gunung (di kota Mekkah) itu, niscaya aku akan segera melaksanakannya.”

Mendapat ray ban sunglasses tawaran yang menghebohkan itu, Rasulullah saw menolak dengan halus. Beliau bersabda, ” Tidak usah. Aku berharap Allah berkenan memunculkan dari kalangan mereka orang yang akan menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”

Setelah itu, Rasulullah saw berdoa, “Wahai Tuhanku, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sempitnya upayaku, dan betapa rendahnya aku di mata manusia. Wahai Tuhan, Engkaulah Maha Pengasih dari semua pengasih, Engkaulah Pelindung orang-orang yang dilemahkan, dan Engkau Tuhanku. cheap nfl jerseys Tidak ada Tuhan selain Engkau. Kepada siapakah Engkau akan menyerahkan diri hamba -hamba-Mu ini? Kepada yang jauh yang bermuka masamkah? Atau kepada Hatunlar musuh yang akan menguasaiku? Asalkan Engkau tiada memurkaimu, aku tak peduli. Hanya maaf-Mu yang sangat kudambakan. Aku berlindung di bawah cahaya kasih-Mu yang menerangi semua kegelapan, dan atasnyalah semua urusan kehidupan di dunia dan di akhirat akan menjadi baik. Janganlah Engkau turunkan murka-Mu kepadaku dan kepada mereka. Hanya untuk-Mu aku rela dihinakan, asalkan saja Engkau mencintauiku. Tiada upaya dan tiada kekuatan, kecuali dari-Mu.”

Begitulah pembelaan Rasulullah saw kepada umat yang berbuat zalim kepada beliau.

Saudaraku…

Begitu besar kecintaan Rasulullah saw kepada umat beliau hingga mendapat bantuan dari malaikat replica oakleys pun beliau enggan menerimanya. Andai menimpa kita, misalnya kita disakiti kemudian tiba-tiba ada sekelompok manusia super mau membantu, apa jadinya?

Hidup manusia tidak akan pernah lepas dari permasalahan, bahkan seringkali datang secara bertubi-tubi. Dalam menghadapi masalah, setiap orang memiliki sikap yang bereda. Ada yang sabar, ada juga yang mengedepankan emosi sehingga mudah putus asa. Jika kita mudah takluk dan pesimisis, apakah permasalahan segera usai?

Demikian pula yang dialami teladan kita, Rasulullah saw. Ujian dakwah beliau sungguh berat. Bukan hanya berkorban harta benda. Keluarga dan nyawa sendiri pun menjadi taruhan. Namun, apakah beliau gampang menyerang?

Tidak ada kamus menyerah dalam diri Rasulullah saw. Sehebat dan sebesar apa pun masalah yang menimpa, beliau selalu berbaik sangka dan yakin akan datangnya pertolongan Allah. Beban yang berat akan terasa kecil jika dipasrahkan kepada Allah sebab Dia-lah yang mengenggam segalanya. Beliau percaya akan firman Allah, “Aku bergantung persangkaan hamba-Ku…”

Jika kita percaya akan datangnya pertolongan Allah, itulah yang akan terjadi. Keyakinan dan optimisme akan membawa kita pada semangat untuk produktif dan selalu berserah diri kepada-Nya. Sebaliknya, jika kita pesimistis dan menganggap persoalan sebagai biang kegagalan, itulah yang akan menjadi kenyataan. Hidup akan selalu dikelilingi kekecewaan sehingga tidak ada semangat untuk bangkit menghadapi keterpurukan.

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber : foto ‘Betapa Rasulullah Merindukanmu’ karya Abdillah F.Hasan)