Tidak lama kemudian keduanya duduk bersama menikmati teh dan pisang goreng hangat buatan Bik Jum. Sebelumnya wanita paruh baya itu mengeluhkan rasa teh hijau yang menurutnya pahit dan tidak sesedap teh Fake Oakleys melati biasa. Sedangkan Arimbi menceritakan khasiat dari teh hijau yang tetap ia minum, meskipun sebenarnya ia pun setuju bahwa teh melati biasa memang jauh lebih nikmat.
Pada perbincangan ini Arimbi berusaha mengarahkan obrolan. Ia yang banyak bertanya seputar keluarga Bik Jum—termasuk tentang anak-anak dan kampung halamannya. Bik Jum pun tanpa segan menjawab panjang lebar pertanyaan-pertanyaan cheap oakleys Arimbi.

Setelah keduanya selesai, Arimbi baru saja akan beranjak menuju ruang tengah saat pertanyaan Bik Jum menarik perhatiannya. Wanita paruh baya itu sedang mencuci cangkir-cangkir dan beberapa penggorengan yang baru saja digunakan.
“Memang ada apa dengan suami Bu Radhiya, Bik?” Arimbi menunda langkah kakinya dan berbalik menuju dapur. Ada rasa penasaran dari nada Fake Ray Bans bicaranya.

Lagi-lagi Arimbi menangkap gerak-gerik yang biasa Bik Jum lakukan jika akan menceritakan sesuatu. Sedikit menengok ke kanan dan kiri seolah memastikan “el tidak ada seorangpun yang sedang mengawasi, mendekatkan tubuh, mengecilkan suara, memicingkan mata, dan mendorong maju bibirnya. Mungkin karena menyangkut orang yang dikenalnya, kali ini tanpa sadar Arimbi ikut mendekatkan telinganya ke cheap football jerseys china arah Bik Jum. Kedua matanya melebar, bersiap mendengar sesuatu yang tidak biasa.




“Kemarin saya nggak sengaja denger Ibu sama Bapak berantem.” Bik Jum memulai kalimatnya. Ibu dan bapak yang ia maksud adalah Bu Radhiya dan suaminya.
Seketika alis Arimbi terangkat. Ia masih tidak beranjak dan bahkan menanti kalimat Bik Jum selanjutnya.

“Gara-gara saya nemuin struk belanja kebutuhan bulanan di celana Bapak dan saya kasih lihat ke Ibu,” lanjut Bik Jum masih dengan suara pelan. “Padahal itu bukan belanjaan punya Ibu. Makanya si Ibu langsung curiga ke Bapak.”
“Terus Bu Radhiya gimana?” tanya Arimbi dengan nada suara wholesale jerseys meninggi dan tanpa sadar mendapati dirinya emosi.
Bik Jum, dengan kedua tangannya yang lihai membersihkan busa sabun pada wajan melalui kucuran air kran, menjawab dengan nada penuh simpati. “Setelah sempet berantem sama Bapak, ya nangislah di kamarnya.”

Entah mengapa pikiran Arimbi langsung melompat mengingat suaminya, yang beberapa hari ini kembali pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan. Dadanya juga mendadak sesak karena rasa curiga yang tiba-tiba menjalari tubuhnya.

Kemudian, seketika, seperti ada sengatan listrik datang mengenai kepalanya. Membuat Arimbi segera beristighfar. Berkali-kali. Apa yang baru saja ia lakukan? Membicarakan tetangganya? Dan lebih buruk lagi, mencurigai suaminya?

“Astaghfirullah…” gumam Arimbi.
“Namanya juga kehidupan rumah tangga ya, Bu.” Bik Jum menyahut.
“Bukan itu.” Arimbi menarik napas panjang. “Harusnya Bik Jum nggak usah nyeritain itu ke saya. Kita jadi ngobrolin urusan rumah tangga orang kan? Ghibah, Bik. Kita jadi ibarat makan bangkai saudara sendiri.” Wanita muda tersebut menggeleng-gelengkan kepala. Bergidik. “Nanti-nanti jangan biasain gosip ah.”

“Tapi ini bukan gosip, Bu. Fakta,” Bik Jum menyela.
“Kalau memang fakta, kita ghibah. Kalau bukan fakta, kita fitnah. Dua-duanya nggak baik dan nggak bener, Bik.” Kali ini suara Arimbi bernada menegaskan. Berharap Bik Jum, dan juga dirinya, tidak akan mengulangi hal seperti ini.

Bik Jum terdiam, lalu dengan nada menyesal berkata, “Maafin saya, Bu.”
Namun, seperti kebiasaan lainnya. Rutinitas melantunkan buah bibir tidaklah mudah untuk berubah. Pun dengan Bik Jum.

bersambung…

Oleh: An Nisaa Gettar