Malu adalah bagian dari iman dan tempat iman adalah surga. Perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar dan tempat tabiat kasar adalah neraka.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Hakim)

Dalam konteks syariat, malu adalah perasaan enggan melakukan perbuatan buruk sehingga menahan diri untuk tidak melakukannya. Menurut Raghib Al-Asfahani, malu adalah menahan jiwa agar tidak mengerjakan sesuatu yang tercela.

Dalam Islam, malu adalah sifat terpuji karena ia adalah akhlak para Nabi dan Cheap Jordans Rasul-Nya. Rasulullah saw adalah sosok yang sangat pemalu dan digambarkan lebih pemalu daripada gadis yang dipingit.  Rasulullah saw pernah menjumpai seseorang yang sedang throwback jerseys mencela saudaranya karena malu. Dia mengatakan, “Kamu ini merasa malu,” sampai dia katakan, “Rasa malu itu telah memudaratkanmu!” Rasulullah saw pun bersabda, “Biarkan dia karena malu itu termasuk keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)




Ditengah perkembangan zaman yang semakin kompleks, rasa malu semakin luntur. Kita bisa menyaksikan kemaksiatan merajalela di mana-mana. Kita pun dapat dengan mudah menemukan orang yang sedang mabuk di tengah keramaian malam. Atau, banyaknya wanita yang tidak malu memamerkan aurat serta berpenampilan cenderung ‘berani’ dan kelewat batas.

Hilangnya rasa cheap nhl jerseys malu berarti mulai menipisnya rasa keimanan dalam diri. “Malu adalah bagian dari keimanan seseorang,” demikian sabda Rasulullah saw, yang diriwayatkan oleh Hakim dan Baihaqi. Maknanya, jika malu sudah hilang, hilanglah iman seseorang sehingga ia bisa berbuat semaunya tanpa kendali.

Bisa dibayangkan jika rasa malu telah mati dalam diri seseorang. Perbuatan tercela akan melenggang bebas, korupsi akan merajalela, dan perzinaan dilakukan terang-terangan. Penganiayaan, ketidakadilan, kolusi, nepotisme, dan mabuk-mabukkan pun tidak lagi a tabu.

Inilah yang dikatakan Rasulullah saw sebagai awal bencana. “Sesungguhnya apabila Allah hendak membinasakan seseorang, Allah mencabut rasa malu dari orang itu. Cheap Jordan Shoes Bila sifat malu sudah dicabut darinya, ia akan mendapati dirinya dibenci orang. Orang malah di anjurkan untuk benci padanya. Jika ia telah dibenci orang, dicabutlah sifat amanah darinya. Jika sifat amanah telah dicabut Cheap Jerseys darinya, kamu akan mendapatinya sebagai seorang pengkhianat. Jika telah menjadi pengkhianat, dicabutlah sifat kasih sayang. Jika telah hilang kasih sayang darinya, jadilah ia seorang yang terkutuk. Jika ia telah menjadi orang terkutuk, lepaslah tali Islam darinya.” (HR.Ibnu Majah)

Salah satu hikmah membiasakan diri bersikap malu adalah adanya keengganan untuk berbuat tercela dan bersemangat melakukan perbuatan terpuji atas dasar keimanan. Iman itu akan menggiring pelakunya ke dalam surga.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Malu adalah bagian dari iman dan tempat iman adalah surga. Perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar dan tempat bagi tabiat kasar adalah neraka.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Hakim)

Sifat malu harus didudukkan dalam konteks yang benar. Ada orang yang malu mengaji dan malu shalat berjamaah tetapi tidak malu berbuat maksiat, korupsi, mengonsumsi narkoba, dan melakukan perbuatan buruk lainnya. Menurut Qadhi Iyadh, malu yang menyebabkan menyia-nyiakan hak bukanlah malu yang disyariatkan, melainkan ketidakmampuan dan kelemahan. Intinya, jika rasa melau menghalangi seseorang untuk berbuat kebaikan dan malah mendorong untuk berbuat durhaka, itu bukanlah malu tetapi kelemahan diri.

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber : buku ‘200 Amal Saleh Berpahala Dahsyat’ karya Abdillah F.Hasan)