Sebuah pengalaman ruhiyah seorang Joni A Koto, Arsitek, Urban Planner, alumni ITB 1993 yang ditulisnya sendiri pada 1 Desember 2016. Sebuah inspirasi yang mengubah pendiriannya sehingga tergerak untuk mau hadir di aksi Bela Islam III, aksi 212. Sungguh cerita inspiratif buat siapa saja yang merasa sudah ‘cukup’ beragama. Sebuah cerita yang mengharu biru untuk siapa saja yang masih memiliki hati.

….

Saya anggap dunia adalah soal bagaimana hidup dan cari kehidupan.. bagaimana menikmati dan lebih baik dari manusia lain, bagaimana bisa punya status baik, dihargai dgn apa yg dipunya dan sedikit jalan2 menikmati dunia..




Saya anggap orang yg maju dalam agama itu adalah yg berfikiran luas dan penuh toleransi, saya anggap tak perlulah terlalu fanatis akan sesuatu, tak perlu reaktif akan sesuatu, keep calm, be cool.. Janganlah sesekali dan ikut2an jadi orang norak.. ikut kelompok jingkrang2 dan entah apalah itu namanya..

Saya tak ikut aksi bela agama ini itu. Kalian jgn usil, jgn pikir dgn kalian-ikut dan saya-tidak artinya kalian masuk syurga dan saya tidak..! Saya ini beragama lho, saya ikut berpuasa, saya bersedekah dan beramal.. Saya bantu orang2, bantu saudara2 saya juga, jgn kalian tanya2 soal peran saya ke lingkungan, kalian lihat orang2 respek pada saya, temanpun aku banyak.. wholesale nfl jerseys tiap kotak sumbangan aku isi..

Saya masih heran, apa sih salah seorang Ahok..? Dia sudah Health bantu banyak orang, dia memang rada kasar tapi hatinya baik kok, saya hargai apa yg sudah dia buat bagi Jakarta..

Saya anggap aksi ini itu hanya soal politis karena kebetulan ada Pilkada. Saya tak mau terbawa2 arus seperti teman2 kantor yg tiba2 juga mau ikut aksi, saya anggap itu berlebihan dan terlalu cari2 sensasi.. paling juga mau selfie2..

Sampai satu saat..

Sore ini dalam gerimis saat saya ada di jalan, dalam mobil menuju tempat miting, dalam alunan musik barat saya berpapasan dgn rombongan pejalan kaki, saya melambat, mereka berjalan tertib, barisannya panjang sekali, pakai baju putih2, rompi hitam dan hanya beralas sendal, muka mereka letih, tapi nyata kelihatan tidak ada paksaan sama sekali di wajah2 itu.. mereka tetap berjalan teratur, memberi jalan ke kendaraan yg mau melintas, tidak ada yg teriak, berlaku arogan dan aneh2 atau bawa aura mirip rombongan pengantar jenazah yg ugal2an.. Ini aneh, biasanya kalau sdh bertemu orang ramai2 di jalan, aromanya kita sudah paranoid, suasana panas dan penuh tanda tanya negatif..

Sore ini, di jalan aku merasa ada kedamaian yg kulihat dan kurasa melihat wajah2 dan baju putih mereka yg basah terkena gerimis..

1 2 3