Hanya saja, beberapa imam mazhab berpendapat, bagian wajah dan dua telapak tangan bukan aurat sehingga tak wajib ditutupi. Pendapat mereka ini juga didasarkan atas hadits-hadits di atas. Namun, mereka menafsirkan hadits-hadits itu bukan sebagai perintah yang bersifat wajib (wujub), melainkan sekedar anjuran (nadb). Kendati demikian, semua ahli fiqih dan ulama mazhab sepakat mengharamkan perbuatan melihat bagian manapun dari tubuh perempuan disertai syahwat. Mereka juga sepakat, perempuan wajib menutup wajahnya apabila kefasikan merajalela, atau apabila sebagian besar laki-laki memandang perempuan dengan pandangan yang diharamkan.

Bila memerhatikan keadaan kaum Muslim sekarang, juga kefasikan dan kebejatan yang kian merajalela, serta makin tergerusnya moral masyarakat, pembaca pasti memahami bahwa tidak ada lagi ruang bagi pendapat yang membolehkan perempuan memperlihatkan bagian wajahnya. Degradasi moral yang tengah menimpa kaum Muslim dewasa ini menuntut–demi terjaminnya keselamatan mereka–kehati-hatian dan kewaspadaan ekstra dalam melangkah hingga kaum Muslim sanggup melewati fase berbahaya dan mampu menghadapi berbagai masalah yang datang.

Dengan ungkapan lebih ringkas, orang yang gemar mengambil kelonggaran hukum agama (rukhshah) sangat mungkin terpeleset pada keengganan menunaikan kewajiban pokok. Itu terjadi ketika tidak ada arus sosial-keagamaan yang wholesale nfl jerseys mengikat rukhshah dalam sebuah konsep Islam universal dan menjaganya supaya tidak melampaui batas-batas syariat.




Anehnya, banyak orang berpegang pada kaidah yang mereka sebut “perubahan hukum mengikuti perubahan zaman”. Sayangnya, kaidah ini mereka praktikkan hanya jordans for cheap pada konteks rukhshah, didorong keinginan melepaskan diri dari kewajiban agama. Namun, ketika berada dalam konteks sebaliknya, kaidah ini mereka abaikan dan lupakan. Kami sendiri tidak menemukan satu pun contoh kasus yang menuntut pemberlakuan kaidah itu, tidak juga pada kasus kewajibab perempuan menutupi wajahnya, baik berdasarkan tuntutan zaman saat ini maupun keterpelesetan yang mengharuskan kehati-hatian ekstra dalam melangkah dan berbuat.

Kedua

Konflik melawan Yahudi Bani Qainuqa menunjukkan adanya kedengkian besar dalam dada mereka terhadap kaum Muslim. Pertanyaannya, mengapa bukti-bukti kedengkian itu baru terbongkar setelah selama tiga tahun mereka dapat menyembunyikannya?

Kedengkian dan kebencian mulai dikobarkan dan ditunjukkan setelah kaum Muslim menang dalam Perang Badar, sesuatu yang tidak pernah mereka perkirakan sebelumnya. Sejak saat itulah dada mereka seakan-akan dibakar api kedengkian yang tak kunjung padam. Mereka tak menemukan cara untuk memadamkannya, kecuali memulai tindak permusuhan seperti yang telah disebutkan di muka. Bahkan, kedengkian mereka tampak begitu jelas lewat berbagai cibiran dan tanggapan mereka atas kemenangan kaum Muslim di Badar.

Diriwayatkan Ibn Jarir bahwa Malik bin al-Shaif–seorang Yahudi wholesale nfl jerseys Madinah–berkata kepada beberapa orang sahabat yang baru pulang dari Badar, “Jangan bangga dulu karena kalian menang melawan sekelompok Quraisy yang tidak cakap berperang. Andai kami mau membulatkan tekad memerangi kalian, kalian pasti takkan sanggup melawan kami.

Seandainya Yahudi Madinah mau menghormati perjanjian cheap jordans online dan kesepakatan mereka dengan kaum Muslim, mereka pasti takkan menemukan seorang Muslim pun yang menyakiti perasaan mereka melalui ucapan maupun perbuatan atau mengusik rumah dan tempat ibadah mereka. Namun, mereka mengabaikan itu Cheap Jordans semua dan memilih berbuat onar. Hasilnya, suatu kejahatan hanya akan kembali kepada diri OUTFITS pelakunya sendiri.

bersambung…

(Sumber: The Great Episodes of Muhammad oleh Dr. Al Buthy)