Mencari Momentum Perbaikan Diri (Bag 2)




Setelah mengisahkan tentang lebah, karakternya, madu yang dikeluarkan cheap nfl jerseys dari perutnya, Allah Swt menegaskan, “Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang Cheap Ray Ban Sunglasses memikirkan.” (QS. An Nahl: 69). Artinya, lebah, dan juga alam dan isinya adalah media untuk menggali tanda-tanda kekuasaan Allah. Penggalian itu tentu kemudian Cheap Jerseys From China diharapkan memberi kontribusi positif baik perbaikan diri seorang muslim.

Termasuk obyek yang layak ditafakukuri adalah beragam suku yang mendiami berhampar-hampar belahan bumi. Seperti yang ada di Indonesia, misalnya. Di sini, ilmu sosiologi dan antropologi menjadi alat bantu yang cukup penting.

Pola pikir ini semestinya juga berkembang kepada perlunya kaum muslimin mengembangkan daerah-daerah wisata yang Islami. Setiap jengkal pantai, air terjun yang jatuh, gunung-gunung yang hijau, adalah potongan bumi Allah yang seharusnya tidak dijauhi. Justru dari sana perbaikan diri bisa banyak wholesale nfl jerseys diawali. Dengan gagasan seperti itu, kelak, rekreasi tidak sekedar aktivitas fisik yang sangat materialistik. Tapi bisa menjadi gerakan menghaluskan budi dan membersihkan hati. Bila itu sudah marak, akan ada gerakan perbaikan diri secara massal. Memang, dibutuhkan kerja keras untuk mewujudkan gagasan seperti itu.




Di sisi lain, Allah Swt memerintahkan Cheap Ray Bans hamba-hamba-Nya untuk berjalan di muka bumi, melihat bagaimana akibat dari orang-orang yang dzalim. Dalam konteks semua itulah penghayatan alam semesta beserta segala isinya bisa berfungsi menjadi momentum perbaikan diri. Dalam Al Qur’an, Allah juga banyak memberi pertanyaan kepada hamba-Nya. “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS. Al Ghasiyyah: 17-20)

“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkannya?” (QS. Al Waqi’ah: 63-64). “Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya?” (QS. Al Waqi’ah: 68-69)

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak untuk dijawab: ya atau tidak. Tetapi pertanyaan untuk menafikan jawaban selain ya. Allah lah yang menurunkan hujan, mengasinkan air laut, dan menawarkan air tanah. Itu memang pertanyaan penafikan yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istifham inkari.

3. Pergantian waktu dan peristiwa

Bergesernya waktu seringkali melahirkan peristiwa baru. Berpindahnya masa tak jarang berdampak kepada munculnya kondisi yang berbeda. Pergantian waktu dan peristiwa adalah momentum. Mahalnya momentum dari pergantian waktu dan peristiwa bisa diresapi dari banyaknya sumpah-sumpah Allah atas waktu yang berbeda-beda. “Demi fajar.” (QS. Al Fajr: 1) “Demi waktu matahari sepenggalahan naik.” (QS. Ad-Dhuha: 1) Demi malam apabila menutupi (cahaya siang). Dan siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 1-2).

Rasulullah mengajarkan doa-doa tertentu untuk peristiwa-peristiwa tertentu. Saat mendengar petir, saat hujan turun dengan deras, saat mendengar kokok ayam, saat mendengar lolongan anjing, dan lain sebagainya. Doa-doa itu tidak lain merupakan simpul pengikat seorang muslim dengan Rabb-nya. Dengan simpul itu ada sebuah alur perbaikan diri yang diawali dari kesadaran. Kesadaran bahwa dirinya terikat dengan Rabb-nya. Dan, itu artinya ia Mbao- harus terikat dengan kebaikan, agar tidak mendapat murka Allah. Karenanya, setiap muslim hendaknya pandai-pandai memanfaatkan perubahan waktu dan peristiwa yang mengiringi hidupnya, untuk dijadikan momentum perbaikan diri.

bersambung…

(Sumber: Majalah Tarbawi)

Leave a Reply