oleh: Anis Matta

Saya ingin mengulas aksi damai 212 dari perspektif yg lain: soal kompatibilitas Islam dan demokrasi.

Kajian Islam dan demorasi adalah bagian tak terpisahkan dari perkembangan dakwah, bahkan di tingkat internasional. oakley outlet Ketika saya ceramah di Turki, Mesir dan negara dunia Islam lainnya, pertanyaan itu selalu muncul. Bagaimana Islam dan demokrasi dapat tumbuh berdampingan di Indonesia? Bagaimana orang Indonesia bisa makin Islami, sekaligus makin demokratis?




Saya jawab, “karena kami belajar  dan sungguh pembelajaran itu tidak mudah”. Kini, 18 tahun setelah Reformasi, aksi damai 212 menjawab pertanyaan itu. Kita, discount oakley umat Islam, memang belajar berdemokrasi.

Coba kita urai menggunakan pilar2 demokrasi: kepatuhan pada hukum, partisipasi, dan tanggung jawab. Aksi damai 212 dilaksanakan dalam koridor hukum, patuh pada peraturan, dan mengakui pemerintah yang berdaulat. Pada aksi 212, umat Islam hanya ingin menyampaikan aspirasi, seraya mendoakan keselamatan negeri yang kita cintai. Aksi 212 malah mengkonfirmasi kepatuhan umat Islam pada hukum yang berlaku. Ini modal berdemokrasi yang berharga.

Soal partisipasi, banyak kisah mengharukan. Mulai dari para mujahid yg berjalan kaki dari Ciamis. Hingga mereka yang berjihad harta mencarter pesawat dari Cheap Jordans Sumatra Barat. Dari tukang bakpau dan roti yg mengratiskan dagangannya, sampai mereka yang menyumbangkan keahlian memijat. Partisipasi dalam perjuangan bukan hal baru bagi kaum Muslim. Dalam sejarah Rasulullah SAW pun kita banyak belajar soal partisipasi sosial dan politik.

Lalu soal tanggung jawab atau akuntabilitas. Aksi damai 212 jelas siapa pelaksananya, tokoh-tokohnya, apa tujuan dan pesannya. Aksi damai 212 tidak menyembunyikan motif dan tujuan. Tidak ada pengerahan berkedok apa pun. Tak ada kepura-puraan.

Dari ukuran tiga faktor ini, nyata bhw aksi damai 212 adalah tonggak penting meningkatnya kemampuan umat Islam berdemokrasi. Tentu masih banyak faktor dan kompleksitas lain. Bisa Cheap Jerseys kita diskusikan. Tapi kemajuan berdemokrasi ini harus kita catat dan apresiasi.

Indonesia akan menjadi entitas peradaban ketika nilai-nilai luhur agama dan demokrasi tumbuh berdampingan. Inilah PR umat Islam ke depan, membangun peradaban dan keadaban Indonesia. Aksi makeup aspirasi tidak perlu pakai memo dan surat edaran, karena umat Islam mampu mengorganisir diri lebih baik. Partisipasi politik datang dari keikhlasan dan kesamaan visi, bukan karena takut pada atasan.

Tapi justru karena itu umat Islam tidak boleh berhenti belajar, tentang demokrasi dan etika politik. Agar umat Cheap Oakleys Islam bisa ikut menjadi pemandu bangsa ini menuju kemajuan dan keadilan.

Semoga Allah SWT meridhoi ikhtiar kita untuk Indonesia.

Kobarkan semangat Indonesia!!