Harus kita akui bahwa salah Cheap Football Jerseys satu momentum mengharukan yang tak terlupakan adalah saat warga Ciamis memilih berjalan kaki dari daerah mereka menuju Jakarta untuk mengikuti langsung Aksi Bela Islam 212, pada 2 Desember pekan lalu. Warga Ciamis memutuskan untuk berjalan kaki setelah banyaknya perusahaan bus ray ban sale yang tak mau mengangkut mereka (peserta aksi) ke Jakarta setelah mendapat larangan dari pihak kepolisian.

Dibalik semangat warga-warga Ciamis tersebut dalam menempuh perjalan menuju Jakarta, ternyata menyimpan banyak kisah haru yang menginspirasi. Salah satunya adalah kisah seorang bocah dengan sandal jepit nya yang telah bolong karena melakukan perjalanan dari Ciamis untuk sampai ke Jakarta, yang kita ketahui bersama jaraknya tidak dekat, apalagi ditempuh dengan berjalan kaki. Berikut kisahnya..

Penantian saya dan orang-orang yang berbaris di sepanjang Jl. Raya Cileunyi, tidak sia-sia apalagi surut walau hujan terus mengguyur. Begitu rombongan pendemo dari Ciamis yang berjalan kaki muncul dari kejauhan, semua bersiap. Kami berdiri, berbaris panjang sekali di tepi jalan, menenteng kresek dan kardus berisi segala macam yang bisa kami berikan. Air minum dalam kemasan, hansaplast, jamu dalam kemasan sachet siap minum, masker untuk jaga-jaga jika nanti gas air mata disemburkan oleh penguasa, sandal jepit, jas hujan, dan pakaian ganti plus sekantung plastik roti, donat, permen, buah, dan cemilan lainnya yang kami siapkan dalam satu plastik berbentuk paketan, kami bagikan.




Mereka begitu senang hati menerima bantuan ala kadarnya dari kami. Takbir bersahutan tiada henti. Hujan dan banjir sama sekali tidak menyurutkan massa untuk berkumpul memanjang dari ujung jalan raya Cileunyi sampai Bundaran Ray Ban sale Cibiru dan sepanjang jalan Soekarno Hatta sampai Kantor Perhutani Soekarno-Hatta.

Hati saya terdetak semakin haru, tatkala saya melihat seorang santri kecil berusia delapan tahun, terlihat ikut berjalan bersama rombongan itu. Yang membuat saya merinding adalah santri kecil itu tidak menggunakan sandal, seperti yang lain. TANPA ALAS KAKI, bocah santri itu mengatupkan kedua telapak tangannya dan tubuhnya menggigil kedinginan karena guyuran hujan.

Segera saya “tewak” nfl jerseys cheap dan tarik ia ke pinggir (menepi). “Sandalnya mana?” tanya saya.

“Putus bu, jadi saya buang,” katanya. Seorang dari kami menyodorkan sepasang sandal jepit baru.

“Bawa baju ganti?” tanya saya lagi. Anak itu hanya menggeleng menandakan tidak membawa baju. Saya tarik ia makin ketepi, tepat di teras bank BJB, saya minta ia melepaskan plastik kantung yang dipakainya untuk menahan hujan. Ya Allah ternyata baju seragam santri nya pun telah basah kuyup. Segera saya dan rekan memberi dan mengenakan santri itu baju kaos panjang dan celana trening panjang, dan melapisi pakaiannya dengan jas hujan agar tak basah lagi karena hujan masih terus turun.

“Kenapa ikut?” tanya saya penasaran.

Ngegantosan (menggantikan) pun Bapak (ayah saya),” hockey jerseys jawab bocah lelaki itu.

“Bapak ade kemana (bapak como kamu kemana)?” tanya saya sambil menggenggamkan beberapa lembar uang.

Atos ngatunkeun (sudah tiada),” jawab seorang santri dewasa dari belakang santri bocah itu yang terdiam mendengar pertanyaan saya.

Ada rasa nyeri yang menyayat perut dibawah iga kanan saya. Masya Allah…

 

sumber : Ig @akhwat_madani