Muhammad Saw kembali bersama ibunya, Aminah, tatkala beliau berusia lima tahun. Suatu hari, karena kerinduan yang mendalam, Aminah dan Muhammad berkeinginan mengunjungi kuburan Abdullah, suami dan ayah dari anaknya, di daerah Yatsrib. Daerah yang terkenal merupakan daerah padang yang sangat tandus dan kering, dan berjarak ratusan kilometer dari kota Mekkah.

Tiba disana, Muhammad hanya memandangi pusara sang ayah. Muhammad tak mengetahui bagaimana senyum di wajah ayahnya. Muhammad tidak pernah tahu kepribadian ayahnya yang membuat banyak penduduk Arab terkagum-kagum. Sementara itu, disampingnya, ibunda tercinta larut dalam kenangan dan meneteskan air mata kesedihan.

Dalam perjalanan pulang, Muhammad kecil yang lugu dan ceria tidak mengetahui apa yang terjadi pada ibunya. Anak kecil itu hanya larut dalam dunianya yang belum tersentuh kegelisahan jiwa. Dia hanya mengetahui sang bunda dalam keadaan baik-baik saja. Meskipun tubuh sang ibu terasa lemah lunglai, mereka tetap melanjutkan perjalanan. Ketika mereka sampai di Abwa, ibunya menghadap ke hadirat Illahi, meninggalkan Muhammad dalam kondisi yatim piatu.




Kabar duka itu berembus cepat. Abdul Muthalib terperanjat ketika mengetahui kabar itu. Ini Home adalah pukulan telak bagi Abdul Muthalib sepeninggal cheap jordans online Abdullah, putranya. Betapa tidak, Abdullah adalah pewaris yang diharapkan meneruskan kemuliaan leluhurnya, pun telah wafat. Dan, kini Aminah menantu kesayangan, telah pula kembali ke hadirat-Nya menyusul sang suami. Harapannya tersisa pada Muhammad, cucu satu-satunya yang wholesale jerseys menjadi belahan jiwanya. Siapa lagi yang dapat meneruskan keturunan Bani Hasyim selain Muhammad bin Abdullah?

Tak heran, perlakuan sang kakek pada cucunya itu sangat istimewa. Ia berusaha memenuhi kebutuhan Muhammad dan menyayanginya melebihi kecintaan pada anak-anaknya yang lain.

Sampai Muhammad berusia delapan tahun, Muhammad berada dalam asuhan kakeknya. Tak ada yang berani mengusik, apalagi menyakiti. Itulah saat-saat indah Muhammad bersama kakeknya. Bergembira ria, bermain layaknya orangtua dengan anaknya. Sejenak terlupakan kepedihan yang melingkupi anak yatim piatu itu.

Namun, badai belum juga lenyap. Tidak ada yang menduga, kakeknya yang selama ini menjadi tumpuan hidup Muhammad meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Penduduk Mekkah, terutama dari pihak Bani Hasyim sangat kehilangan bangsawan Quraisy yang sangat mereka hormati itu.

Perhatian masyarakat kembali tertuju kepada Muhammad yang kini hidup seorang diri, sebatang kiri. Mereka merasakan bagaimana anak kecil itu hidup Fake Oakleys tanpa belaian kasih sayang orangtua dan kakeknya. Siapa lagi yang harus memeliharanya?

Sungguh Allah Swt menjaga Muhammad dengan kehadiran sang Paman, Abu Thalib, seorang tokoh yang disegani kalangan penduduk Arab. Melalui pamannya inilah Muhammad mengenal seluk beluk dunia usaha. Suatu ketika, Muhammad menemani sang paman dalam rombongan kabilah yang membawa Oakleys sunglasses Outlet dagangan hingga ke Syam. Dalam perjalan inilah Muhammad bertemu dengan pendeta Buhaira yang melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad, sebagaimana diceritakan pada kitab terdahulu.

Selengkapnya, dalam kitab Maulid Al-Barzanji dikisahkan, ketika Muhammad menginjak usia 12 tahun beliau diajak sang paman ke Syam. Kedatangan beliau diketahui oleh pendeta bernama Buhaira. Sang pendeta menjelaskan, “Sesungguhnya aku mengetahui bahwa anak ini akan menjadi pemimpin dan utusan Allah serta Nabi-Nya. Aku melihat kayu dan batu telah memberi hormat kepadanya, cheap jerseys wholesale padahal benda-benda tersebut hanya akan menghormatu nabi yang memiliki kelembutan hati. Diantara dua belikatnya terdapat stempel kenabian yang penuh cahaya serta dapat mengangkat martabatnya.”

Buhairah kemudian menyarankan Abu Thalib agar menjaga dan melindungi Muhammad dari kalangan Yahudi, sebab Yahudi adalah kaum yang sangat ingkar terhadap kebenaran Rasul-Nya di muka bumi.

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber : buku ‘Betapa Rasulullah Merindukanmu’ karya Abdillah F.Hasan)